web analytics

Posts tagged ·

unilever indonesia

·...

Story About Rokus #8

no comments

Kunjungan ke-13
10 November 2012
William Lautama, Vincent & Hendydy Kwik

Timeline project akan selesai 14 November, kami bersyukur Rokus dengan 3 mitra sudah berjalan selama 3 minggu dengan tantangan halang merintang yang memberikan kami pengalaman berharga untuk berpikir & bekerja keras menghadapi dinamika lapangan yang di luar ekspektasi. Hari ini kami berkumpul di rumah Bu Yus untuk berdiskusi mengevaluasi perkembangan Rokus. Secara keseluruhan, mitra mengaku sangat terbantu dengan kehadiran Rokus. Uang penghasilan dari Rokus digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari, menambah uang untuk membeli sepeda anaknya, dan bayar uang sekolah. Bentuk Rokus adalah social enterprise maka KPI Rokus adalah financial performance dengan pertumbuhan 146% terhitung sejak Rokus mulai berjualan 16 Oktober 2012.

 

Tantangan mitra saat ini :

  • Bu Yus (14 roti kukus/hari)
    Penjualan menurun karena banyak warga yang mengontrak di kontrakan Bu Yus pindah sejak sistem pembayaran listrik menggunakan sistem voucher.
  • Bu Wiwit (20 roti kukus/hari)
    Penjualan Bu Wiwit cukup baik ditambah ada kabar baik dalam waktu 1 bulan tempat les dekat rumah Bu Wiwit akan dibuka.
  • Bu Emi (17 roti kukus/hari)
    Penjualan menurun karena ada warga yang meniru bisnis roti kukus dengan lokasi lebih strategis (tepat di pinggir persimpangan) dengan harga lebih murah, kami & juri terkejut karena roti kukus ini belum berjalan 1 bulan namun sudah ditiru.

Berdasarkan identifikasi di atas, permasalahan mitra Rokus saat ini adalah lokasi yang kurang mendukung maka kami mencari beberapa lokasi alternatif baru yang dekat dengan rumah mitra karena mereka harus menjaga anak-anaknya di samping berjualan rokti kukus.

Kiri – kanan : Hendydy, William, Bu Wiwit & anaknya, Bu Emi & anaknya, Bu Yus, Joshua (perwakilan dari MSS FEUI), Bu Indri (juri dari Unilever), Mas Sauta (mentor dari Unilever), Mbak Dwi (dosen FEUI), dan Vincent. Verry sedang sakit sehingga tidak bisa ikut.

Setelah foto bersama, kami menawarkan juri & mentor mencicipi produk roti kukus. Kami senang dengan kedatangan juri & mentor sehingga mereka bisa melihat lokasi Cilincing, mitra, dan ide perubahan yang kami rencanakan 3 bulan lalu. Sementara menunggu Bu Yus membuatkan roti, kami ngobrol-ngobrol lebih santai. Juri & mentor menghargai apa yang kami lakukan dan menurut mereka tim Rokus cukup sukses membawa perubahan di Cilincing :D

Kami cerita tentang kesan & proses pembelajaran selama ULAS. Secara keseluruhan & personal, kami memiliki cerita masing-masing. Kesan William, details do matter! Di minggu ke-3 project ketika konsultasi dengan mentor, saya belajar dinamika lapangan sangat menantang & ternyata tim Rokus memiliki banyak ‘lubang’ dalam perencanaan. Kesan Vincent, project Rokus ini semakin menggelitik jiwa sosial melihat orang-orang dengan kondisi kekurangan yang butuh bantuan kita. Terakhir, Hendydy bersyukur our efforts do matter! Beberapa kali, perjalanan dia tempuh naik motor dari Grogol ke Cilincing. Jarak yang cukup jauh dengan suhu Jakarta yang panas tidak menghalanginya. Kami be-4 bergantian ke Cilincing dan setiap weekend selalu ada yang datang. Pagi hari naik travel dari Bandung, sampai di Kelapa Gading, dilanjutkan naik busway, dan angkot ke lokasi. Kerja keras yang terbayarkan membuat kita semua bangga sudah melakukan sesuatu :D

@WilliamLautama

Story About Rokus #7

no comments

Kunjungan ke-11
27 Oktober 2012
Vincent & Hendydy Kwik

Tim Rokus kembali ke Cilincing untuk mengunjungi para mitra yang sudah memulai penjualan roti kukus sejak tanggal 16 Oktober 2012. Kami pergi ke tempat Bu Yus selaku kepala Mitra yang membantu mengoordinir mitra-mitra Rokus lainnya.

Sesampainya di depan rumah Bu Yus, terlihat ada pembeli yang sedang menunggu Bu Yus membuatkan roti kukus. Kami pun melihat bagaimana cara Bu Yus membuat roti kukus yang sudah pernah kami berikan pelatihan dan hasilnya memuaskan. Setelah melayani pembeli yang datang, kami diajak ke rumah Bu Yus untuk ngobrol-ngobrol. Kami menanyakan perkembangan penjualan dari Bu Yus beserta dengan mitra yang lain. Untuk Bu Yus sendiri, penjualan dari hari ke hari cukup stabil, ±20 buah/hari. Kalau lagi ramai sekali, bisa mencapai 30 buah. Untuk mitra yang lain, penjualan Rokus juga hampir sama banyak, ±20 buah/hari. Rokus dengan rasa coklat, strawberry, susu, dan keju merupakan favorit dan paling sering dipesan oleh para pembeli.

Melihat keseriusan para mitra untuk melakukan penjualan dari hari ke hari membuat tim kami lebih bersemangat lagi dalam ULAS ini. Kami pun ngobrol lebih lanjut soal permasalahan yang dihadapi oleh Bu Yus. Sejauh ini tidak ada masalah yang berat, hanya masalah-masalah yang kecil dan mampu ditangani oleh para mitra. Masalah yang lumayan berat mengenai selai untuk Rokus, selai yang dipakai oleh para mitra merupakan selai yang dipesan dan dibawa oleh tim Rokus dari Bandung ke Jakarta. Untuk selai-selai favorit seperti coklat dan strawberry sudah habis sejak pertama kali dibawakan oleh tim Rokus. Bu Yus sudah mencoba untuk mencari pengganti selai sejenis di dekat Cilincing akan tetapi selai coklat dan strawberry yang dibeli dari segi kualitas dan rasa kalah dari selai yang dibawa dari Bandung. Hal ini cukup mengganggu karena para mitra harus agak sedikit bergantung pada tim Rokus soal selai. Para mitra sedang berusaha untuk mencari selai yang sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh tim Rokus.

Selanjut soal mitra lain, Bu Wiwid. Dari cerita yang disampaikan oleh Bu Yus bahwa Bu Wiwid agak kurang koperatif dalam bekerja sama. Sesuai dengan kesepakatan dan peraturan yang telah kami setujui bahwa setiap penjualan dari Rokus harus disetorkan kepada Bu Yus selaku kepala mitra sehingga tim Rokus dapat mengontrol uang untuk dikelolah kembali. Bu Wiwid juga tidak menuruti peraturan di mana apabila bahan baku habis (seperti selai, mentega, keju, plastik, dll) harus melaporkan kepada Bu Yus sehingga Bu Yus dapat mengatur untuk membeli barang tersebut sehingga mempunyai standar yang seragam, tetapi Bu Wiwid sendiri langsung membeli barang tersebut tanpa persetujuan Bu Yus. Mendengar hal tersebut, kami pun mengunjungi Bu Wiwid setelah dari rumah Bu Yus.

Kami pun berangkat ke tempat Bu Wiwid untuk berdiskusi. Bu Wiwid mulai menjual roti kukus mulai jam 3 siang sampai jam 10 malam karena di daerah tersebut ramai di atas jam 3 menurut Bu Wiwid. Kami pun menanyakan permasalahan yang dihadapi oleh Bu Wiwid, tetapi sampai sejauh ini masih belum ada. Kami pun melakukan pendekatan kepada Bu Wiwid untuk mengingatkan kembali setiap hasil penjualan dari Rokus harus disetorkan kepada Bu Yus setelah dipotong komisi untuk para mitra Rp 1.000 per penjualan dan harus mengambil bahan baku yang sudah habis dari depot tempat Bu Yus.

Kami tidak ke tempat mitra ketiga, yaitu Bu Emi karena keterbatasan waktu dan tempat Bu Emi yang jauh. Penjualan Bu Emi bisa dikatakan bagus sekali karena menurut Bu Yus daerah tempat Bu Emi, para anak-anak di sana telah mempunyai penghasilan sendiri sehingga daya konsumsi di sana lebih bagus. Beberapa masukan dari Bu Yus :

  • Apa yang harus dilakukan dengan uang yang telah dikumpulkan dari mitra setelah dipotong komisi? Apakah disimpan ke tabungan Bu Yus sendiri dengan pencatatan yang telah memadai atau bagaimana? Kami menyarakan untuk membuka tabungan di Koperasi Kasih Indonesia.
  • Bu Yus memerlukan transportasi sepeda untuk mengontrol para mitra lainnya dan untuk membeli bahan baku di pasar. Kami berencana untuk bekerja sama dengan KKI supaya Bu Yus dapat melakukan cicilan sepeda di KKI.
  • Jangan hanya jualan Rokus saja, coba roti burger dan sejenisnya dengan resiko mudah ditiru.

 

Kunjungan ke-12
4 November 2012
Verry Anggara

Pada kunjungan ini, saya datang bersama Joy Enrico, tim ULAS dari MSS FE UI, kami tiba di cilincing dari pukul 10 pagi. Agenda kali ini adalah untuk survey kinerja klien, re-stock selai, dan mentoring. Pertama-tama kami mengunjungi Bu Yus untuk memantau, setelah nngobrol bu Yus bercerita kalo tanggapan warga terhadap Rokus ini sangat bagus dan sangat membantu. Sehari-hari tiap gerobak bisa menjual diatas 15 roti tiap hari. Dari data juga terlihat bahwa penjualan rata-rata dari 3 gerobak adalah 57 roti tiap hari (target kami adalah 60 roti tiap hari). Tapi bu Yus mengalami masalah mengenai pencatatan, sebelumnya bu Yus melakukan pencatatan di 1 buku saja dan ternyata cukup menyulitkan sehingga bu Yus kemudian memutuskan untuk memisahkan pencatatan tiap gerobak di 3 buku yang berbeda. Namun, berdasarkan cerita bu Yus belakangan ini penjualan di gerobaknya menurun, sementara penjualan di gerobak Bu Emi dan Bu Wiwid meningkat. Hal ini menjadi tugas tim Rokus untuk mengidentifikasi penyebab & memberikan rekomendasi.

 

Minggu lalu, Bu Yus mencari selai di daerah Cilincing untuk menjadi pengganti selai yang kami bawa dari Bandung dan blueberry sudah ditemukan toko yang menjual selai dengan rasa dan kualitas yang setara bahkan lebih baik dengan selai kami, namun untuk selai coklat yang kami bawa dari bandung masih lebih bagus kualitasnya. Hari itu saya membawa 7 kg selai berbagai rasa yang akan di stock untuk ke-3 gerobak.

Setelah dari bu Yus kami kemudian mengunjungi tempat bu Emi, saat itu kebetulan bu Emi sedang tidak berjualan. Bu Emi mengatakan berjualan rokus sangat membantu penghasilan keluarganya, dia bisa berjualan roti kukus sambil bekerja mengupas kerang di rumahnya. Hanya saja menurut pengakuan bu Emi, beberapa hari terakhir penjualannya menurun, salah satu penyebabnya karena ada truk besar yang parkir di depan rumahnya yang menghalangi gerobaknya.

Setelah dari tempat bu Emi, kami kemudian berkunjung ke tempat bu Wiwid, waktu itu bu Wiwid juga sedang tidak berjualan karena bu Wiwid lebih laris berjualan di malam hari, bu Wiwid adalah klien dengan penjualan tertinggi belakangan ini.

Setelah dari tempat bu Wiwid, saya kemudian bertemu dengan mentor untuk konsultasi mengenai Rokus. Poin penting dari mentor adalah mengenai pertumbuhan bisnis, jadi kita harus menunjukan kalo Rokus bisa growth, walaupun 2 minggu penjualan belum bisa memperlihatkan trend penjualan Rokus. Jadi selama 2 minggu terakhir ini kami harus bisa melakukan analisis terhadap hasil penjualan Rokus setiap hari. Untuk melihat apa yang menyebabkan penjualan tinggi (>30 buah) atau rendah, kemudian dari analisis itu akan dihasilkan rekomendasi yang diberikan kepada tiap klien Rokus agar penjualannya bisa terus meningkat.

Story About Rokus #5

no comments

Kunjungan ke-8
30 September 2012
Vincent & Hendydy Kwik

Sudah sebulan lebih projek ULAS berjalan, semangat & motivasi kami (tim Rokus) sempat turun untuk melanjutkan projek ULAS tersebut. Cukup banyak masalah yang datang; tidak semudah yang kami perkirakan di awal projek saat perencaan. Seperti pada umumnya, lebih mudah merencanakan daripada melakukan dan hal ini benar-benar terbukti. Salah satu hal yang membuat semangat dan motivasi turun adalah merasa cukup jenuh dan capek karena kami harus bolak-balik Bandung-Jakarta hampir setiap minggu, keterbatasan transportasi untuk menjangkau Cilincing, masih belum mendapatkan supplier roti yang menjadi hal yang sangat penting, pencairan dana tahap dua yang belum turun dimana kelompok kami benar-benar membutuhkan dana tersebut untuk melanjutkan tahap berikutnya, membagi waktu kuliah dengan tugas-tugas cukup banyak, tugas akhir, serta kegiatan lainnya benar-benar menguras waktu dan energi.

Setelah bertemu dengan para mentor dan NGO-KKI, kami mulai bangkit kembali. Berbagai masukan, pendapat, motivasi, serta dorongan dari para mentor dan NGO membuat kami lebih bersemangat lagi untuk menjalankan projek ULAS ini.

 

Minggu, 30 September 2012, Vincent dan Hendydy berangkat dari Bandung ke Jakarta untuk menyelesaikan hal-hal yang sempat tertunda dengan masukan dari para mentor dan NGO. Dari Bandung, kami sudah membawa selai yang akan menjadi varian roti kukus yang akan dijual yaitu coklat, blueberry, strawberry, dan kacang dimana merupakan rasa yang cukup populer dan disukai oleh masyarakat pada umumnya. Sesampainya di Jakarta, kami langsung ke Cilincing.

Hal pertama yang kami lakukan adalah ke tempat pembuat gerobak di mana kami sudah berjanji akan melunasi gerobak yang kami pesan (Sebenarnya gerobak tersebut sudah jadi dari minggu lalu, 23 September 2012 dan dikarenakan dana masih belum turun maka kami meminta pengertian dan kesediaan pembuat gerobak untuk menunggu). Kami berusaha melunasi gerobak tersebut dengan uang pribadi yang kami kumpulkan sambil menunggu dana tahap kedua dari Unilever Indonesia. Kami mengecek semua gerobak pesanan kami telah sesuai dengan spesifikasi yang kami minta. Ada sedikit perbaikan dan penyempurnaan terakhir yang harus dilakukan sebelum diantar.

Sambil menunggu perbaikan dan penyempurnaan terakhir, kami pun berkunjung ke rumah Ibu Yus terlebih dahulu untuk ngobrol dan memberitahu persiapan terakhir kami. Kami menitipkan selai yang telah dibawa dari Bandung kemudian kami pun ke pasar setempat untuk membeli berbagai perlengkapan untuk menjual. Mulai dari mentega, keju, susu kental, kotak selai, capitan roti, pisau roti, talenan, tabung gas, dan lain-lain. Kami berkeliling untuk membeli peralatan tersebut hingga sore. Kami juga membeli rantai dan gembok untuk masing-masing gerobak agar gerobak tersebut aman dan tidak dicuri. Peralatan yang belum terbeli adalah kompor gas beserta selang dan bulengan karena uang yang kami kumpulkan sendiri sudah tidak cukup untuk membeli peralatan tersebut.

Setelah selesai mencari peralatan yang dibutuhkan, kami pun kembali ke tempat pembuatan gerobak dan semua gerobak telah selesai dibuat dengan sempurna. Kemudian gerobak tersebut pun diantar : satu gerobak diantar ke rumah Bu Yus dan dua gerobak lainnya diantar ke rumah Bu Wiwid. Persiapan menjual pun uda mencapai 70%. Semua peralatan dan barang yang dibeli sudah dibagi menjadi 3 bagian buat masing-masing gerobak. Tinggal kompor gas, selang, dan bulengan yang belum dibeli serta desain untuk gerobak dan menu.

Sebelum meninggalkan Cilincing, kami pun mengunjungi rumah Bapak Haji Baso, pemilik Alfamart yang akan menjadi tempat kami untuk berjualan roti kukus. Kami bertemu dengan Ibu Mus, istri Bapak Haji Baso dan beliau telah memberi izin buat kami berjualan dengan harga Rp 300.000 perbulan. Bu Mus tidak keberatan kalau kami menaruh gerobak kami di sana walaupun masih belum berjualan dan uang sewa bisa menyusul setelah mulai berjualan. Hal ini merupakan hal yang sangat positif menurut kami.

Setelah itu, kami singgah kembali ke rumah Bu Yus karena mau bertemu dengan salah satu teman Bu Yus yaitu Bapak Ahmadi yang akan menjadi mitra kami untuk mengambil roti di daerah Jelambar. Produsen roti yang kami dapatkan belum bersedia mengantar roti tersebut ke daerah Cilincing sehingga mitra kami harus mengambil sendiri ke produsen roti tersebut. Dikarena mitra penjual kami adalah ibu-ibu dan tidak memiliki motor sehingga kami bekerja sama dengan Bapak Ahmadi untuk mengambil roti tersebut di malam hari setelah Bapak Ahmadi pulang kerja. Kami pun berangkat bareng beserta Bapak Ahmadi dan anak Bu Yus, Mas Eko untuk mengetahui lokasi produsen roti.

Salah satu yang cukup menarik dan membuat kami sadari esensi dari projek ULAS di Cilincing adalah ketika akan pulang ke rumah saudara kami di Jakarta. Motor yang kami bawa kebetulan lampunya putus sehingga harus diganti terlebih dahulu (sudah malam sehingga cukup berbahaya membawa motor tanpa lampu depan). Kami singgah ke salah satu bengkel untuk memperbaiki lampu motor tersebut. Di bengkel tersebut, ada salah seorang montir yang memperbaiki lampu motor kami. Menurut kami montir tersebut sangat ramah dan sabar sekali. Dia bertanya kepada kami, kenapa kalian kelihatan buru-buru banget sambil memperbaiki lampu motor. Gak apa-apa kok mas, bisa diperbaiki, ini pasti ada maksudnya. Kalau sudah begini, tenang saja. Sambil menunggu lampu tersebut diperbaiki, kami sempat ngobrol dengan anak Bu Yus dan mas Eko.

Vincent : Mas, sudah umur berapa sekarang? Masih sekolah mas?
Mas : Seharusnya sudah kuliah mas, tetapi saya sampai tamat SMA saja, enggak punya uang buat lanjut kuliah.
Vincent : Jadi sekarang sibuk ngapain saja mas? Lagi bantu orang tua?
Mas : Lagi cari kerja sih mas, baru belakangan ini berhenti bekerja.
Vincent : Sebelumnya kerja di mana mas?
Mas : Sempat kerja di kapal penangkap ikan di Bali mas, tapi sudah berhenti.
Vincent : Kenapa mas?
Mas : Awalnya ditawarin sama teman warga Cilincing juga, mau kerja di kapal pengangkapan ikan enggak? Gajinya lumayan besar lho. Dikarenakan harus membantu orang tua, saya bersedia bekerja untuk membantu orang tua. Sesampainya di kapal penangkap ikan, saya dipaksa bekerja dari jam kerja biasa (suka disuruh lembur), tidak dikasih istirahat. Gaji yang diberikan tidak sesuai yang dijanjikan, hanya setengah dari yang dijanjikan. Tidak boleh berhubungan dengan keluarga, hanya saat keadaan yang sangat penting dan darurat saja dan itu pun harus melalui kapten kapal. Saya dikontrak selama sepuluh bulan. Kalau di kapal ada masalah, keluarga tidak akan diberitahu kabar dari anggota keluarganya. Malah keluarga sempat berpikir saya sudah meninggal karena sempat ada kabar kalau ada kapal yang tenggelam.
Vincent : Jadi sekarang masih cari kerja ya?
Mas : iya mas.
Vincent : (Dalam hati, kasihan juga ya. Berasa beruntung masih dapat kesempatan kuliah sedangkan orang lain harus sudah bekerja membantu orang tua dan keluarga).

*Lampu motor pun telah selesai diperbaiki. Monitir tersebut pun mengatakan : hati-hati mas pulangnya (ketemu orang-orang yang benar-benar ramah, terasa beda).

 

Side story : Mas Eko menurut kami ada sedikit keterbatasan, mempunyai keterbatasan fisik dengan ukuran tubuh. Tetapi yang membuat kami terkagum adalah semangat beliau untuk bekerja. Walaupun mempunyai sedikit keterbatasan fisik, masih mampu bekerja seperti manusia biasa lainnya. Hal yang luar biasa adalah dia mau membantu kami untuk mengambil roti ke Jelambar dari Cilincing (beliau bekerja di daerah Sunter, jadi sepulang kerja dari Sunter singgah ke Jelambar terlebih dahulu untuk mengambil roti). Dari Cilincing ke Jelambar menurut kami lumayan jauh, akan tetapi ketika sampai di tempat produsen roti, dia mengatakan sambil senyum tulus “tempatnya cukup dekat” padahal tadi jalannya agak muter-muter. (Kami yang membawa jalan dari Cilincing ke Jelambar, kebetulan kami bukan orang Jakarta juga). Dalam hati, padahal menurut kami jarak tersebut lumayan jauh. Bapak Ahmadi bersedia menjadi mitra kami untuk mengambil roti dari Jelambar ke Cilincing dan kami akan membayarnya setiap pengambilan.

Sore hari sekitar jam 5 kami pun berpisah dan pulang ke tempat masing-masing. Setelah pulang rumah, kami baru benar-benar menyadari esensi dari projek ULAS ini selama ini dari orang-orang yang kami temui seharian di Cilincing. Agak susah diungkapkan dengan kata-kata tetapi bisa dibilang senang sekali dapat membantu orang lain yang kurang mampu dengan kemampuan yang kami miliki (Apalagi mendapat dana dari Unilever dan kami tinggal menjalankan projek tersebut dengan mendapat bimbingan dari pihak Unilever beserta mentor-mentor dan NGO). Kadang kita suka merasa masalah yang kita hadapai sangat sulit sekali, padahal baru masalah kecil yang berhubungan dengan masalah kuliah atau pribadi. Akan tetapi, orang-orang tersebut harus menghadapi berbagai masalah, masalah keluarga, biaya hidup, bagaimana cara mendapatkan penghasilan tambahan, membantu orang tua, dan masih banyak lainnya.

Bahagia itu sederhana sekali :D

Story About ULAS #3

no comments

Kunjungan ke-4

Dalam kunjungan ke-4, kami melakukan pendekatan ke supervisor dan warga yang akan menjadi mitra untuk menjual roti kukus. Kami berkunjung ke Koperasi Kasih Indonesia (KKI), bertemu Kak Leon dan pergi ke pasar untuk mencari supplier roti.

  • Penjual roti Rahmat

Lokasi : dekat tempat DVD.

Kami kembali ke tempat penjual roti Rahmat, tetapi tidak bisa menemukan roti tersebut karena rotinya sudah habis terjual.

  • Pak Jumedi

Dia memberi informasi untuk menjadi roti di :

PD. Marisa Food

Ruko Angke Permai

Jl. Jelambar Fajar No.3/3 Jakarta Utara

Rotinya sudah habis, namun dia menawarkan roti bulat untuk dipanggang; Rp 5500 (19-20 biji).

 

Kami juga mencari spot untuk tempat berjualan

  • Depot + tempat jual tanpa gerobak (Rp 550.000/bulan)

Jl. Kelapa dua (agak masuk gang dikit, tapi langsung jalan raya; bisa masuk motor dan parkir; lalu lintas orang yang lewat juga ok).

  • Depan Indomaret (lalu lintas orang yang lewat ok)

Cilincing Baru; Jl. Ancol 1/9 10, Ancol (Sebulan Rp 450.000

Hub : Pak Sugi 70095263

  • Depan Alfa mart (lalu lintas orang yang lewat ok)
  • Depan mini market lestari (samping pasar; lalu lintas orang yang lewat ok)
  • Dekat Sekolah SMA 74 (potensi paling besar untuk nitip jual – konsinyasi)

Ada sekitar 10 sekolah dekat sana (SD/SMP Strada; SD/SMP/SMA Darul Malib; SMP Nurul Pala; Sekolah SMP/SMA; SD Nurul Pala; SMA 114; SMP 244; SMP 266; SMP 143; SD/SMP Sahid; SMK 5; PGRI; SMK 4; SMK 15; SMP 200; SMA 115; SMK 49; SMAN 5; Dayarat; SMAK 5)

 

Diskusi dengan Kak Leon (15-20 minutes)

  • Bagaimana meningkatkan motivasi & semangat klien untuk menjual?
  • Buat persiapan ketika ditanya oleh supervisor & klien.
  • Perlu control untuk pilot project; agar bisa ditiru oleh klien berikutnya.

Dilanjutkan dengan bertemu Bu Yus (supervisor) dan Bu Wiwid.

 

Kunjungan ke-5
Minggu, 9 September 2012

 

Kami be-4 pergi ke Cilincing & bertemu dengan pembuat gerobak, dengan dana tahap pertama yang diberikan Unilever kami membayar DP untuk pemesanan 3 buah gerobak. Dengan ukuran 1,5m x 0,8m x 2m.

 

Kemudian kami pergi mengunjungi Bu Yus (supervisor Rokus di Cilincing), diskusi mengenai markas Rokus untuk menyimpan bahan baku (selai & roti kukus) dan Bu Yus bersedia rumahnya digunakan sebagai markas Rokus.

Spot penjualan yang disewakan berlokasi di depan alfamart milik Pak Haji Baso, namun beliau tidak adal di rumah ketika kami mengunjungi rumahnya. Kami akan mengontaknya untuk fiksasi spot penjualan & kontrak perjanjian.

 

Kunjungan ke-6
William, Vincent & Hendydy
16 September 2012
3 hal yang kami lakukan :

1. Fiksasi spot penjualan

Spot penjualan yang sudah fix adalah di depan Alfamart di daerah Cilincing, sayangnya pemilik Alfamart ini tidak bisa ditemui namun dari pembicaraan melalui telepon sudah fix, yang tersisa adalah kontrak.

2. Memantau pembuatan Gerobak

Kami juga memantau pembuatan 3 buah gerobak, menambahkan beberapa spesifikasi gerobak dan pengerjaan dijanjikan selesai minggu depan.

3. Training cara pembuatan roti dengan Bu Yus, Bu

William membawa bahan baku : roti, keju, selai dan susu kaleng dari Bandung. Kami semua berkumpul di rumah supervisor (Bu Yus), di sana terlah berkumpul Bu Yus, Bu Wiwit, dan Bu Murtini. Kami mengajarkan proses pembuatan roti kukus melalui video & praktek lalu diskusi mengenai teknik penjualan.

Story About ULAS #2

no comments

Di bulan Juli 2012

William Lautama (gw sendiri), Vincent Chow, Verry Anggara, dan Hendydy Kwik sebagai tim Rokus, mengikuti Unilever Leadership Actions on Sustainability (ULAS). ULAS adalah program yang diinisiasi oleh Unilever Indonesia dan FEUI yang menggerakkan pemuda untuk melakukan aksi nyata berbasis sustainability dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di masyarakat. informasi lebih lengkap di http://unilever-ulas.com

Rokus adalah “roti kukus waralaba” yang akan memberikan fasilitas (gerobak, seragam, bahan) dan edukasi (dasar akuntansi dan manajemen) untuk masyarakat yang kurang mampu agar mereka dapat menjalankan bisnis roti kukus untuk mendapatkan penghasilan lebih, mencapai kesejahteraan, dan kehidupan yang lebih baik. Keuntungan dari penjualan akan digunakan untuk menyediakan fasilitas lainnya bagi mereka yang membutuhkan sebanyak mungkin untuk memastikan bahwa ini adalah apa yang kita sebut “Sustainability“. Video tentang ide kami klik di sini.

 

Kunjungan ke-1

William & Vincent mengunjungi pasar tradisional Cilincing. Kami mencari toko yang menjual fasilitas yang dibutuhkan untuk kegiatan operasional Rokus seperti : pisau, toples, tabung gas, buleung, lap talenan, solet, dan lain-lain.

 

Selain fasilitas, kami juga mencari warung yang menjual selai.

 

Kunjungan ke-2

Hendydy dan Verry mencari supplier dan vendor untuk membuat Gerobak. Kami menemukan beberapa toko yang spesialis pembuat berbagai peralatan dari aluminium. Toko tersebut menawarkan harga gerobak ± 2 juta Rupiah untuk desain yang kami berikan.

 

Kunjungan ke-3

Setelah berdiskusi dengan kedua mentor, ada beberapa hal yang harus di follow-up secepatnya yaitu, supplier roti, supplier selai (karena kami ingin menggunakan kualitas selai yang lebih baik dari selai yang dijual di pasar tradisional Cilincing), dan supplier gerobak.

Kunjungan ke-3 di Cilincing, kami mencari beberapa spot penjualan gerobak roti kukus. Kami memilih sewa teras di Alfamart & Indomaret di sekitar Cilincing dengan lalu lintas ± 300 orang/hari di setiap toko.

 

Persiapan berikutnya adalah bahan baku, mencari mitra & fiksasi lokasi penjualan :D

Story About ULAS #1

no comments

Di bulan Juli 2012

William Lautama (gw sendiri), Vincent Chow, Verry Anggara, dan Hendydy Kwik sebagai tim Rokus, mengikuti Unilever Leadership Actions on Sustainability (ULAS). ULAS adalah program yang diinisiasi oleh Unilever Indonesia dan FEUI yang menggerakkan pemuda untuk melakukan aksi nyata berbasis sustainability dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di masyarakat. informasi lebih lengkap di http://unilever-ulas.com

Rokus adalah “roti kukus waralaba” yang akan memberikan fasilitas (gerobak, seragam, bahan) dan edukasi (dasar akuntansi dan manajemen) untuk masyarakat yang kurang mampu agar mereka dapat menjalankan bisnis roti kukus untuk mendapatkan penghasilan lebih, mencapai kesejahteraan, dan kehidupan yang lebih baik. Keuntungan dari penjualan akan digunakan untuk menyediakan fasilitas lainnya bagi mereka yang membutuhkan sebanyak mungkin untuk memastikan bahwa ini adalah apa yang kita sebut “Sustainability“. Video tentang ide kami klik di sini.

Dengan harapan, mereka bisa memulai bisnis dengan fasilitas & edukasi yang diberikan tim Rokus sebagai modal awal. Tim Rokus bekerjasama dengan Koperasi Kasih Indonesia (KKI) untuk menciptakan bisnis yang bisa diterapkan oleh warga Cilincing yang sudah lama menjadi peminjam KKI. http://kasihindonesia.com

Melalui tulisan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih untuk teman-teman yang mendukung tim Rokus dengan memberikan vote pada video Rokus. Tim Rokus berkesempatan mengikuti U-Camp sebagai tahap selanjutnya setelah video campaign. U-Camp adalah pelatihan dalam program ULAS. 10 tim yang terpilih mendapatkan kesempatan mengikuti U-Camp. 10 candidates will have 4 days of direct engagement with some great speakers and the judges with lots of cool topics from cool people about comprehensive training on leadership with Unilever leaders. There were leadership skill, sustainability knowledge, project management, until the fun team building session. U-Camp helped us to our project ready to go on board with better preparation.

 

Sesi pertama dimulai dengan company introduction. Unilever adalah perusahaan FMCG yang berasal dari England, saat ini sudah berada di 180 negara di dunia & nama Unilever yang kita kenal sekarang merupakan gabungan dari Unie Margarine + Lever Brothers. Based on survey, 100 % houses in Indonesia use at least 1 Unilever’s product. Ngak ada air yang menjadi waste di pabrik Unilever karena ada water waste management & airnya digunakan kembali untuk kolam ikan Koi. Pesan terakhir “Pastikan ketika kamu membeli barang di supermaket, minimal ada 1 produk Unilever yang kamu beli karena tidak ada yang tahu kalau di masa depan, kamu yang akan produksi produk Unilever.” hehehe

 

Beberapa lessons learned dari workshop yang saya catat adalah

Jonathan Sanchez

Challenge in sustainability :

  • Communicate the message to internal business
  • Communicate the message to society

“My Mom never asks me about what I learned but what I asked at school”

Tri Mumpuni

  1. Kemiskinanan hanyalah gejala, bukan akar masalah
  2. Setiap individu memiliki kemampuan untuk tumbuh

Setelah workshop di kantor Unilever, kami mengunjungi Malaka Sari, daerah binaan unilever yang memiliki bank sampah dan memiliki program daur ulang kemasan produk Unilever menjadi berbagai aksesoris.

 

Sampah di Malaka Sari diolah menjadi sesuatu yang bernilai seperti pupuk kompos

 

 

Perjalanan dilanjutkan, kami meluncur ke Unilever Training Center Megamendung di Puncak.

 

Esoknya kegiatan dimulai dengan games dan dilanjutkan dengan sharing session

Eka Sugiarto

Brand development ≈ membuat mobil

Brand building ≈ driver yang mengemudi

Key element of project management :

  • Fulfillment pf KPI
  • Learning for scale-ups
  • Opportunities for more advanced development

Toto Sugito “I wish one day, gas station no longer sells petrol, instead they sell drinking water bcause none use cars and everybody bikes”

Dayu Hatmanti “Kalau orang Muslim naik hajinya ke Mekkah, kalau diver naik hajinya ke Raja Ampat”

Emir Salim

Pak Emil menceritakan tentang manusia yg memiliki siklus setiap 20tahun dan kehidupan masa kecilnya yang mengalami diskriminasi namun dia tetap berusaha untuk menunjukkan bahwa dia akan lebih pandai daripada kaum yang mengucilkan mereka,

“Kulitmu boleh coklat tapi otakmu jauh lebih tinggi dr mereka kulit putih” seru beliau kepada peserta U-Camp. “Role model seperti Soekarno & Soeharto adalah manusia yg berada di puncaknya di usia 40-60 tahun. Apa yang kamu lakukan di umur 20-40 akan menentukan seperti apa kau nanti di umur 40-60. Jika kamu tidak punya fighting spirit → hidupmu lembek → kau hidup namun kau bukan siapa-siapa dan kau tidak akan diperhitungkan nantinya.”

Goris Mustaqim

2 kunci social enterprise :

  • Business model
  • Kelembagaan

Iman usman

How to lead older people :

  • Lead by example, show your attitude & manner
  • Belajar dari point of view mereka
  • Berkarya

Nadine Zamira

Membumikan bahasa dalam berkomunikasi dengan masyarakat grassroot. Speak their language & listen to their words!

Leadership Actions in Unilever

  • When you are assigned by your company as a projet leader, you have to be confident to yourself and believe in your own capability.
  • When you are assigned by your company as a projet leader, you have to be confident to yourself and believe in your own capability.
  • After having confidence, don’t forget to prepare yourself..always hope for the best and prepare for the worst
  • When you achieve success in groupwork, never say that it’s because of you because that success is gained through everybody’s involvement

Games Simulasi Bisnis sesi favorit gw! Kami dibagi dalam ±10 tim dan bermain dalam simulasi bisnis dalam aula besar, bermain dengan uang monopoly, berperan sebagai perusahaan pembuat es-krim yang membeli bahan baku dari pasar, membuatnya di setiap pos kelompok, dan menjualnya ke pasar. Ada beberapa pos : pasar, pasar saham, bank, dan konsultan.

Panitia seringkali melemparkan uang & kertas saham bak sinterklas; harga pasar & bunga bank tiba-tiba berubah; ada tarif untuk menggunakan jasa konsultan namun ada juga diskon dengan tantangan menggombal, nyanyi, nari, sampai kayang #ups; pasar saham yang menggemaskan karena tiba-tiba tutup di saat harga rendah; di sudut ruangan, bank memberikan bunga 50% untuk nasabah dan ternyata itu adalah jebakan karena di akhir permainan ada skenario bank tersebut dilikuidasi #bangkrut. Di awal, kami bermain dengan rapih dan seiring waktu berjalan, kami bermain semakin brutal, bar-bar, dan tak terkendali *sorry no pict, too chaos! LOLs :D

Di hari terakhir, semua tim presentasi di depan penguji mengenai ide project yang lebih mantap dengan pembekalan dari workshop. Penguji yang akan menguji presentasi Rokus adalah 3 orang dari senior leader Unilever yang merupakan presenter sesi presentation skills, 7 Habits, dan project management serta 1 orang dari World Bank. Puji syukur, perjuangan lembur persiapan presentasi sukses dengan beberapa komentar perbaikan dari penguji.

 

Tim Rokus di ULC Megamendung

Mohon doa semoga kami berhasil menjalankan project sosial Rokus :D