web analytics

Posts tagged ·

sosial

·...

Story About Rokus #5

no comments

Kunjungan ke-8
30 September 2012
Vincent & Hendydy Kwik

Sudah sebulan lebih projek ULAS berjalan, semangat & motivasi kami (tim Rokus) sempat turun untuk melanjutkan projek ULAS tersebut. Cukup banyak masalah yang datang; tidak semudah yang kami perkirakan di awal projek saat perencaan. Seperti pada umumnya, lebih mudah merencanakan daripada melakukan dan hal ini benar-benar terbukti. Salah satu hal yang membuat semangat dan motivasi turun adalah merasa cukup jenuh dan capek karena kami harus bolak-balik Bandung-Jakarta hampir setiap minggu, keterbatasan transportasi untuk menjangkau Cilincing, masih belum mendapatkan supplier roti yang menjadi hal yang sangat penting, pencairan dana tahap dua yang belum turun dimana kelompok kami benar-benar membutuhkan dana tersebut untuk melanjutkan tahap berikutnya, membagi waktu kuliah dengan tugas-tugas cukup banyak, tugas akhir, serta kegiatan lainnya benar-benar menguras waktu dan energi.

Setelah bertemu dengan para mentor dan NGO-KKI, kami mulai bangkit kembali. Berbagai masukan, pendapat, motivasi, serta dorongan dari para mentor dan NGO membuat kami lebih bersemangat lagi untuk menjalankan projek ULAS ini.

 

Minggu, 30 September 2012, Vincent dan Hendydy berangkat dari Bandung ke Jakarta untuk menyelesaikan hal-hal yang sempat tertunda dengan masukan dari para mentor dan NGO. Dari Bandung, kami sudah membawa selai yang akan menjadi varian roti kukus yang akan dijual yaitu coklat, blueberry, strawberry, dan kacang dimana merupakan rasa yang cukup populer dan disukai oleh masyarakat pada umumnya. Sesampainya di Jakarta, kami langsung ke Cilincing.

Hal pertama yang kami lakukan adalah ke tempat pembuat gerobak di mana kami sudah berjanji akan melunasi gerobak yang kami pesan (Sebenarnya gerobak tersebut sudah jadi dari minggu lalu, 23 September 2012 dan dikarenakan dana masih belum turun maka kami meminta pengertian dan kesediaan pembuat gerobak untuk menunggu). Kami berusaha melunasi gerobak tersebut dengan uang pribadi yang kami kumpulkan sambil menunggu dana tahap kedua dari Unilever Indonesia. Kami mengecek semua gerobak pesanan kami telah sesuai dengan spesifikasi yang kami minta. Ada sedikit perbaikan dan penyempurnaan terakhir yang harus dilakukan sebelum diantar.

Sambil menunggu perbaikan dan penyempurnaan terakhir, kami pun berkunjung ke rumah Ibu Yus terlebih dahulu untuk ngobrol dan memberitahu persiapan terakhir kami. Kami menitipkan selai yang telah dibawa dari Bandung kemudian kami pun ke pasar setempat untuk membeli berbagai perlengkapan untuk menjual. Mulai dari mentega, keju, susu kental, kotak selai, capitan roti, pisau roti, talenan, tabung gas, dan lain-lain. Kami berkeliling untuk membeli peralatan tersebut hingga sore. Kami juga membeli rantai dan gembok untuk masing-masing gerobak agar gerobak tersebut aman dan tidak dicuri. Peralatan yang belum terbeli adalah kompor gas beserta selang dan bulengan karena uang yang kami kumpulkan sendiri sudah tidak cukup untuk membeli peralatan tersebut.

Setelah selesai mencari peralatan yang dibutuhkan, kami pun kembali ke tempat pembuatan gerobak dan semua gerobak telah selesai dibuat dengan sempurna. Kemudian gerobak tersebut pun diantar : satu gerobak diantar ke rumah Bu Yus dan dua gerobak lainnya diantar ke rumah Bu Wiwid. Persiapan menjual pun uda mencapai 70%. Semua peralatan dan barang yang dibeli sudah dibagi menjadi 3 bagian buat masing-masing gerobak. Tinggal kompor gas, selang, dan bulengan yang belum dibeli serta desain untuk gerobak dan menu.

Sebelum meninggalkan Cilincing, kami pun mengunjungi rumah Bapak Haji Baso, pemilik Alfamart yang akan menjadi tempat kami untuk berjualan roti kukus. Kami bertemu dengan Ibu Mus, istri Bapak Haji Baso dan beliau telah memberi izin buat kami berjualan dengan harga Rp 300.000 perbulan. Bu Mus tidak keberatan kalau kami menaruh gerobak kami di sana walaupun masih belum berjualan dan uang sewa bisa menyusul setelah mulai berjualan. Hal ini merupakan hal yang sangat positif menurut kami.

Setelah itu, kami singgah kembali ke rumah Bu Yus karena mau bertemu dengan salah satu teman Bu Yus yaitu Bapak Ahmadi yang akan menjadi mitra kami untuk mengambil roti di daerah Jelambar. Produsen roti yang kami dapatkan belum bersedia mengantar roti tersebut ke daerah Cilincing sehingga mitra kami harus mengambil sendiri ke produsen roti tersebut. Dikarena mitra penjual kami adalah ibu-ibu dan tidak memiliki motor sehingga kami bekerja sama dengan Bapak Ahmadi untuk mengambil roti tersebut di malam hari setelah Bapak Ahmadi pulang kerja. Kami pun berangkat bareng beserta Bapak Ahmadi dan anak Bu Yus, Mas Eko untuk mengetahui lokasi produsen roti.

Salah satu yang cukup menarik dan membuat kami sadari esensi dari projek ULAS di Cilincing adalah ketika akan pulang ke rumah saudara kami di Jakarta. Motor yang kami bawa kebetulan lampunya putus sehingga harus diganti terlebih dahulu (sudah malam sehingga cukup berbahaya membawa motor tanpa lampu depan). Kami singgah ke salah satu bengkel untuk memperbaiki lampu motor tersebut. Di bengkel tersebut, ada salah seorang montir yang memperbaiki lampu motor kami. Menurut kami montir tersebut sangat ramah dan sabar sekali. Dia bertanya kepada kami, kenapa kalian kelihatan buru-buru banget sambil memperbaiki lampu motor. Gak apa-apa kok mas, bisa diperbaiki, ini pasti ada maksudnya. Kalau sudah begini, tenang saja. Sambil menunggu lampu tersebut diperbaiki, kami sempat ngobrol dengan anak Bu Yus dan mas Eko.

Vincent : Mas, sudah umur berapa sekarang? Masih sekolah mas?
Mas : Seharusnya sudah kuliah mas, tetapi saya sampai tamat SMA saja, enggak punya uang buat lanjut kuliah.
Vincent : Jadi sekarang sibuk ngapain saja mas? Lagi bantu orang tua?
Mas : Lagi cari kerja sih mas, baru belakangan ini berhenti bekerja.
Vincent : Sebelumnya kerja di mana mas?
Mas : Sempat kerja di kapal penangkap ikan di Bali mas, tapi sudah berhenti.
Vincent : Kenapa mas?
Mas : Awalnya ditawarin sama teman warga Cilincing juga, mau kerja di kapal pengangkapan ikan enggak? Gajinya lumayan besar lho. Dikarenakan harus membantu orang tua, saya bersedia bekerja untuk membantu orang tua. Sesampainya di kapal penangkap ikan, saya dipaksa bekerja dari jam kerja biasa (suka disuruh lembur), tidak dikasih istirahat. Gaji yang diberikan tidak sesuai yang dijanjikan, hanya setengah dari yang dijanjikan. Tidak boleh berhubungan dengan keluarga, hanya saat keadaan yang sangat penting dan darurat saja dan itu pun harus melalui kapten kapal. Saya dikontrak selama sepuluh bulan. Kalau di kapal ada masalah, keluarga tidak akan diberitahu kabar dari anggota keluarganya. Malah keluarga sempat berpikir saya sudah meninggal karena sempat ada kabar kalau ada kapal yang tenggelam.
Vincent : Jadi sekarang masih cari kerja ya?
Mas : iya mas.
Vincent : (Dalam hati, kasihan juga ya. Berasa beruntung masih dapat kesempatan kuliah sedangkan orang lain harus sudah bekerja membantu orang tua dan keluarga).

*Lampu motor pun telah selesai diperbaiki. Monitir tersebut pun mengatakan : hati-hati mas pulangnya (ketemu orang-orang yang benar-benar ramah, terasa beda).

 

Side story : Mas Eko menurut kami ada sedikit keterbatasan, mempunyai keterbatasan fisik dengan ukuran tubuh. Tetapi yang membuat kami terkagum adalah semangat beliau untuk bekerja. Walaupun mempunyai sedikit keterbatasan fisik, masih mampu bekerja seperti manusia biasa lainnya. Hal yang luar biasa adalah dia mau membantu kami untuk mengambil roti ke Jelambar dari Cilincing (beliau bekerja di daerah Sunter, jadi sepulang kerja dari Sunter singgah ke Jelambar terlebih dahulu untuk mengambil roti). Dari Cilincing ke Jelambar menurut kami lumayan jauh, akan tetapi ketika sampai di tempat produsen roti, dia mengatakan sambil senyum tulus “tempatnya cukup dekat” padahal tadi jalannya agak muter-muter. (Kami yang membawa jalan dari Cilincing ke Jelambar, kebetulan kami bukan orang Jakarta juga). Dalam hati, padahal menurut kami jarak tersebut lumayan jauh. Bapak Ahmadi bersedia menjadi mitra kami untuk mengambil roti dari Jelambar ke Cilincing dan kami akan membayarnya setiap pengambilan.

Sore hari sekitar jam 5 kami pun berpisah dan pulang ke tempat masing-masing. Setelah pulang rumah, kami baru benar-benar menyadari esensi dari projek ULAS ini selama ini dari orang-orang yang kami temui seharian di Cilincing. Agak susah diungkapkan dengan kata-kata tetapi bisa dibilang senang sekali dapat membantu orang lain yang kurang mampu dengan kemampuan yang kami miliki (Apalagi mendapat dana dari Unilever dan kami tinggal menjalankan projek tersebut dengan mendapat bimbingan dari pihak Unilever beserta mentor-mentor dan NGO). Kadang kita suka merasa masalah yang kita hadapai sangat sulit sekali, padahal baru masalah kecil yang berhubungan dengan masalah kuliah atau pribadi. Akan tetapi, orang-orang tersebut harus menghadapi berbagai masalah, masalah keluarga, biaya hidup, bagaimana cara mendapatkan penghasilan tambahan, membantu orang tua, dan masih banyak lainnya.

Bahagia itu sederhana sekali :D

Story About ULAS #3

no comments

Kunjungan ke-4

Dalam kunjungan ke-4, kami melakukan pendekatan ke supervisor dan warga yang akan menjadi mitra untuk menjual roti kukus. Kami berkunjung ke Koperasi Kasih Indonesia (KKI), bertemu Kak Leon dan pergi ke pasar untuk mencari supplier roti.

  • Penjual roti Rahmat

Lokasi : dekat tempat DVD.

Kami kembali ke tempat penjual roti Rahmat, tetapi tidak bisa menemukan roti tersebut karena rotinya sudah habis terjual.

  • Pak Jumedi

Dia memberi informasi untuk menjadi roti di :

PD. Marisa Food

Ruko Angke Permai

Jl. Jelambar Fajar No.3/3 Jakarta Utara

Rotinya sudah habis, namun dia menawarkan roti bulat untuk dipanggang; Rp 5500 (19-20 biji).

 

Kami juga mencari spot untuk tempat berjualan

  • Depot + tempat jual tanpa gerobak (Rp 550.000/bulan)

Jl. Kelapa dua (agak masuk gang dikit, tapi langsung jalan raya; bisa masuk motor dan parkir; lalu lintas orang yang lewat juga ok).

  • Depan Indomaret (lalu lintas orang yang lewat ok)

Cilincing Baru; Jl. Ancol 1/9 10, Ancol (Sebulan Rp 450.000

Hub : Pak Sugi 70095263

  • Depan Alfa mart (lalu lintas orang yang lewat ok)
  • Depan mini market lestari (samping pasar; lalu lintas orang yang lewat ok)
  • Dekat Sekolah SMA 74 (potensi paling besar untuk nitip jual – konsinyasi)

Ada sekitar 10 sekolah dekat sana (SD/SMP Strada; SD/SMP/SMA Darul Malib; SMP Nurul Pala; Sekolah SMP/SMA; SD Nurul Pala; SMA 114; SMP 244; SMP 266; SMP 143; SD/SMP Sahid; SMK 5; PGRI; SMK 4; SMK 15; SMP 200; SMA 115; SMK 49; SMAN 5; Dayarat; SMAK 5)

 

Diskusi dengan Kak Leon (15-20 minutes)

  • Bagaimana meningkatkan motivasi & semangat klien untuk menjual?
  • Buat persiapan ketika ditanya oleh supervisor & klien.
  • Perlu control untuk pilot project; agar bisa ditiru oleh klien berikutnya.

Dilanjutkan dengan bertemu Bu Yus (supervisor) dan Bu Wiwid.

 

Kunjungan ke-5
Minggu, 9 September 2012

 

Kami be-4 pergi ke Cilincing & bertemu dengan pembuat gerobak, dengan dana tahap pertama yang diberikan Unilever kami membayar DP untuk pemesanan 3 buah gerobak. Dengan ukuran 1,5m x 0,8m x 2m.

 

Kemudian kami pergi mengunjungi Bu Yus (supervisor Rokus di Cilincing), diskusi mengenai markas Rokus untuk menyimpan bahan baku (selai & roti kukus) dan Bu Yus bersedia rumahnya digunakan sebagai markas Rokus.

Spot penjualan yang disewakan berlokasi di depan alfamart milik Pak Haji Baso, namun beliau tidak adal di rumah ketika kami mengunjungi rumahnya. Kami akan mengontaknya untuk fiksasi spot penjualan & kontrak perjanjian.

 

Kunjungan ke-6
William, Vincent & Hendydy
16 September 2012
3 hal yang kami lakukan :

1. Fiksasi spot penjualan

Spot penjualan yang sudah fix adalah di depan Alfamart di daerah Cilincing, sayangnya pemilik Alfamart ini tidak bisa ditemui namun dari pembicaraan melalui telepon sudah fix, yang tersisa adalah kontrak.

2. Memantau pembuatan Gerobak

Kami juga memantau pembuatan 3 buah gerobak, menambahkan beberapa spesifikasi gerobak dan pengerjaan dijanjikan selesai minggu depan.

3. Training cara pembuatan roti dengan Bu Yus, Bu

William membawa bahan baku : roti, keju, selai dan susu kaleng dari Bandung. Kami semua berkumpul di rumah supervisor (Bu Yus), di sana terlah berkumpul Bu Yus, Bu Wiwit, dan Bu Murtini. Kami mengajarkan proses pembuatan roti kukus melalui video & praktek lalu diskusi mengenai teknik penjualan.

Story About ULAS #2

no comments

Di bulan Juli 2012

William Lautama (gw sendiri), Vincent Chow, Verry Anggara, dan Hendydy Kwik sebagai tim Rokus, mengikuti Unilever Leadership Actions on Sustainability (ULAS). ULAS adalah program yang diinisiasi oleh Unilever Indonesia dan FEUI yang menggerakkan pemuda untuk melakukan aksi nyata berbasis sustainability dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di masyarakat. informasi lebih lengkap di http://unilever-ulas.com

Rokus adalah “roti kukus waralaba” yang akan memberikan fasilitas (gerobak, seragam, bahan) dan edukasi (dasar akuntansi dan manajemen) untuk masyarakat yang kurang mampu agar mereka dapat menjalankan bisnis roti kukus untuk mendapatkan penghasilan lebih, mencapai kesejahteraan, dan kehidupan yang lebih baik. Keuntungan dari penjualan akan digunakan untuk menyediakan fasilitas lainnya bagi mereka yang membutuhkan sebanyak mungkin untuk memastikan bahwa ini adalah apa yang kita sebut “Sustainability“. Video tentang ide kami klik di sini.

 

Kunjungan ke-1

William & Vincent mengunjungi pasar tradisional Cilincing. Kami mencari toko yang menjual fasilitas yang dibutuhkan untuk kegiatan operasional Rokus seperti : pisau, toples, tabung gas, buleung, lap talenan, solet, dan lain-lain.

 

Selain fasilitas, kami juga mencari warung yang menjual selai.

 

Kunjungan ke-2

Hendydy dan Verry mencari supplier dan vendor untuk membuat Gerobak. Kami menemukan beberapa toko yang spesialis pembuat berbagai peralatan dari aluminium. Toko tersebut menawarkan harga gerobak ± 2 juta Rupiah untuk desain yang kami berikan.

 

Kunjungan ke-3

Setelah berdiskusi dengan kedua mentor, ada beberapa hal yang harus di follow-up secepatnya yaitu, supplier roti, supplier selai (karena kami ingin menggunakan kualitas selai yang lebih baik dari selai yang dijual di pasar tradisional Cilincing), dan supplier gerobak.

Kunjungan ke-3 di Cilincing, kami mencari beberapa spot penjualan gerobak roti kukus. Kami memilih sewa teras di Alfamart & Indomaret di sekitar Cilincing dengan lalu lintas ± 300 orang/hari di setiap toko.

 

Persiapan berikutnya adalah bahan baku, mencari mitra & fiksasi lokasi penjualan :D