Tag Archives: roti kukus

Story About Rokus #8

Kunjungan ke-13
10 November 2012
William Lautama, Vincent & Hendydy Kwik

Timeline project akan selesai 14 November, kami bersyukur Rokus dengan 3 mitra sudah berjalan selama 3 minggu dengan tantangan halang merintang yang memberikan kami pengalaman berharga untuk berpikir & bekerja keras menghadapi dinamika lapangan yang di luar ekspektasi. Hari ini kami berkumpul di rumah Bu Yus untuk berdiskusi mengevaluasi perkembangan Rokus. Secara keseluruhan, mitra mengaku sangat terbantu dengan kehadiran Rokus. Uang penghasilan dari Rokus digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari, menambah uang untuk membeli sepeda anaknya, dan bayar uang sekolah. Bentuk Rokus adalah social enterprise maka KPI Rokus adalah financial performance dengan pertumbuhan 146% terhitung sejak Rokus mulai berjualan 16 Oktober 2012.

 

Tantangan mitra saat ini :

  • Bu Yus (14 roti kukus/hari)
    Penjualan menurun karena banyak warga yang mengontrak di kontrakan Bu Yus pindah sejak sistem pembayaran listrik menggunakan sistem voucher.
  • Bu Wiwit (20 roti kukus/hari)
    Penjualan Bu Wiwit cukup baik ditambah ada kabar baik dalam waktu 1 bulan tempat les dekat rumah Bu Wiwit akan dibuka.
  • Bu Emi (17 roti kukus/hari)
    Penjualan menurun karena ada warga yang meniru bisnis roti kukus dengan lokasi lebih strategis (tepat di pinggir persimpangan) dengan harga lebih murah, kami & juri terkejut karena roti kukus ini belum berjalan 1 bulan namun sudah ditiru.

Berdasarkan identifikasi di atas, permasalahan mitra Rokus saat ini adalah lokasi yang kurang mendukung maka kami mencari beberapa lokasi alternatif baru yang dekat dengan rumah mitra karena mereka harus menjaga anak-anaknya di samping berjualan rokti kukus.

Kiri – kanan : Hendydy, William, Bu Wiwit & anaknya, Bu Emi & anaknya, Bu Yus, Joshua (perwakilan dari MSS FEUI), Bu Indri (juri dari Unilever), Mas Sauta (mentor dari Unilever), Mbak Dwi (dosen FEUI), dan Vincent. Verry sedang sakit sehingga tidak bisa ikut.

Setelah foto bersama, kami menawarkan juri & mentor mencicipi produk roti kukus. Kami senang dengan kedatangan juri & mentor sehingga mereka bisa melihat lokasi Cilincing, mitra, dan ide perubahan yang kami rencanakan 3 bulan lalu. Sementara menunggu Bu Yus membuatkan roti, kami ngobrol-ngobrol lebih santai. Juri & mentor menghargai apa yang kami lakukan dan menurut mereka tim Rokus cukup sukses membawa perubahan di Cilincing :D

Kami cerita tentang kesan & proses pembelajaran selama ULAS. Secara keseluruhan & personal, kami memiliki cerita masing-masing. Kesan William, details do matter! Di minggu ke-3 project ketika konsultasi dengan mentor, saya belajar dinamika lapangan sangat menantang & ternyata tim Rokus memiliki banyak ‘lubang’ dalam perencanaan. Kesan Vincent, project Rokus ini semakin menggelitik jiwa sosial melihat orang-orang dengan kondisi kekurangan yang butuh bantuan kita. Terakhir, Hendydy bersyukur our efforts do matter! Beberapa kali, perjalanan dia tempuh naik motor dari Grogol ke Cilincing. Jarak yang cukup jauh dengan suhu Jakarta yang panas tidak menghalanginya. Kami be-4 bergantian ke Cilincing dan setiap weekend selalu ada yang datang. Pagi hari naik travel dari Bandung, sampai di Kelapa Gading, dilanjutkan naik busway, dan angkot ke lokasi. Kerja keras yang terbayarkan membuat kita semua bangga sudah melakukan sesuatu :D

@WilliamLautama

Story About Rokus #7

Kunjungan ke-11
27 Oktober 2012
Vincent & Hendydy Kwik

Tim Rokus kembali ke Cilincing untuk mengunjungi para mitra yang sudah memulai penjualan roti kukus sejak tanggal 16 Oktober 2012. Kami pergi ke tempat Bu Yus selaku kepala Mitra yang membantu mengoordinir mitra-mitra Rokus lainnya.

Sesampainya di depan rumah Bu Yus, terlihat ada pembeli yang sedang menunggu Bu Yus membuatkan roti kukus. Kami pun melihat bagaimana cara Bu Yus membuat roti kukus yang sudah pernah kami berikan pelatihan dan hasilnya memuaskan. Setelah melayani pembeli yang datang, kami diajak ke rumah Bu Yus untuk ngobrol-ngobrol. Kami menanyakan perkembangan penjualan dari Bu Yus beserta dengan mitra yang lain. Untuk Bu Yus sendiri, penjualan dari hari ke hari cukup stabil, ±20 buah/hari. Kalau lagi ramai sekali, bisa mencapai 30 buah. Untuk mitra yang lain, penjualan Rokus juga hampir sama banyak, ±20 buah/hari. Rokus dengan rasa coklat, strawberry, susu, dan keju merupakan favorit dan paling sering dipesan oleh para pembeli.

Melihat keseriusan para mitra untuk melakukan penjualan dari hari ke hari membuat tim kami lebih bersemangat lagi dalam ULAS ini. Kami pun ngobrol lebih lanjut soal permasalahan yang dihadapi oleh Bu Yus. Sejauh ini tidak ada masalah yang berat, hanya masalah-masalah yang kecil dan mampu ditangani oleh para mitra. Masalah yang lumayan berat mengenai selai untuk Rokus, selai yang dipakai oleh para mitra merupakan selai yang dipesan dan dibawa oleh tim Rokus dari Bandung ke Jakarta. Untuk selai-selai favorit seperti coklat dan strawberry sudah habis sejak pertama kali dibawakan oleh tim Rokus. Bu Yus sudah mencoba untuk mencari pengganti selai sejenis di dekat Cilincing akan tetapi selai coklat dan strawberry yang dibeli dari segi kualitas dan rasa kalah dari selai yang dibawa dari Bandung. Hal ini cukup mengganggu karena para mitra harus agak sedikit bergantung pada tim Rokus soal selai. Para mitra sedang berusaha untuk mencari selai yang sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh tim Rokus.

Selanjut soal mitra lain, Bu Wiwid. Dari cerita yang disampaikan oleh Bu Yus bahwa Bu Wiwid agak kurang koperatif dalam bekerja sama. Sesuai dengan kesepakatan dan peraturan yang telah kami setujui bahwa setiap penjualan dari Rokus harus disetorkan kepada Bu Yus selaku kepala mitra sehingga tim Rokus dapat mengontrol uang untuk dikelolah kembali. Bu Wiwid juga tidak menuruti peraturan di mana apabila bahan baku habis (seperti selai, mentega, keju, plastik, dll) harus melaporkan kepada Bu Yus sehingga Bu Yus dapat mengatur untuk membeli barang tersebut sehingga mempunyai standar yang seragam, tetapi Bu Wiwid sendiri langsung membeli barang tersebut tanpa persetujuan Bu Yus. Mendengar hal tersebut, kami pun mengunjungi Bu Wiwid setelah dari rumah Bu Yus.

Kami pun berangkat ke tempat Bu Wiwid untuk berdiskusi. Bu Wiwid mulai menjual roti kukus mulai jam 3 siang sampai jam 10 malam karena di daerah tersebut ramai di atas jam 3 menurut Bu Wiwid. Kami pun menanyakan permasalahan yang dihadapi oleh Bu Wiwid, tetapi sampai sejauh ini masih belum ada. Kami pun melakukan pendekatan kepada Bu Wiwid untuk mengingatkan kembali setiap hasil penjualan dari Rokus harus disetorkan kepada Bu Yus setelah dipotong komisi untuk para mitra Rp 1.000 per penjualan dan harus mengambil bahan baku yang sudah habis dari depot tempat Bu Yus.

Kami tidak ke tempat mitra ketiga, yaitu Bu Emi karena keterbatasan waktu dan tempat Bu Emi yang jauh. Penjualan Bu Emi bisa dikatakan bagus sekali karena menurut Bu Yus daerah tempat Bu Emi, para anak-anak di sana telah mempunyai penghasilan sendiri sehingga daya konsumsi di sana lebih bagus. Beberapa masukan dari Bu Yus :

  • Apa yang harus dilakukan dengan uang yang telah dikumpulkan dari mitra setelah dipotong komisi? Apakah disimpan ke tabungan Bu Yus sendiri dengan pencatatan yang telah memadai atau bagaimana? Kami menyarakan untuk membuka tabungan di Koperasi Kasih Indonesia.
  • Bu Yus memerlukan transportasi sepeda untuk mengontrol para mitra lainnya dan untuk membeli bahan baku di pasar. Kami berencana untuk bekerja sama dengan KKI supaya Bu Yus dapat melakukan cicilan sepeda di KKI.
  • Jangan hanya jualan Rokus saja, coba roti burger dan sejenisnya dengan resiko mudah ditiru.

 

Kunjungan ke-12
4 November 2012
Verry Anggara

Pada kunjungan ini, saya datang bersama Joy Enrico, tim ULAS dari MSS FE UI, kami tiba di cilincing dari pukul 10 pagi. Agenda kali ini adalah untuk survey kinerja klien, re-stock selai, dan mentoring. Pertama-tama kami mengunjungi Bu Yus untuk memantau, setelah nngobrol bu Yus bercerita kalo tanggapan warga terhadap Rokus ini sangat bagus dan sangat membantu. Sehari-hari tiap gerobak bisa menjual diatas 15 roti tiap hari. Dari data juga terlihat bahwa penjualan rata-rata dari 3 gerobak adalah 57 roti tiap hari (target kami adalah 60 roti tiap hari). Tapi bu Yus mengalami masalah mengenai pencatatan, sebelumnya bu Yus melakukan pencatatan di 1 buku saja dan ternyata cukup menyulitkan sehingga bu Yus kemudian memutuskan untuk memisahkan pencatatan tiap gerobak di 3 buku yang berbeda. Namun, berdasarkan cerita bu Yus belakangan ini penjualan di gerobaknya menurun, sementara penjualan di gerobak Bu Emi dan Bu Wiwid meningkat. Hal ini menjadi tugas tim Rokus untuk mengidentifikasi penyebab & memberikan rekomendasi.

 

Minggu lalu, Bu Yus mencari selai di daerah Cilincing untuk menjadi pengganti selai yang kami bawa dari Bandung dan blueberry sudah ditemukan toko yang menjual selai dengan rasa dan kualitas yang setara bahkan lebih baik dengan selai kami, namun untuk selai coklat yang kami bawa dari bandung masih lebih bagus kualitasnya. Hari itu saya membawa 7 kg selai berbagai rasa yang akan di stock untuk ke-3 gerobak.

Setelah dari bu Yus kami kemudian mengunjungi tempat bu Emi, saat itu kebetulan bu Emi sedang tidak berjualan. Bu Emi mengatakan berjualan rokus sangat membantu penghasilan keluarganya, dia bisa berjualan roti kukus sambil bekerja mengupas kerang di rumahnya. Hanya saja menurut pengakuan bu Emi, beberapa hari terakhir penjualannya menurun, salah satu penyebabnya karena ada truk besar yang parkir di depan rumahnya yang menghalangi gerobaknya.

Setelah dari tempat bu Emi, kami kemudian berkunjung ke tempat bu Wiwid, waktu itu bu Wiwid juga sedang tidak berjualan karena bu Wiwid lebih laris berjualan di malam hari, bu Wiwid adalah klien dengan penjualan tertinggi belakangan ini.

Setelah dari tempat bu Wiwid, saya kemudian bertemu dengan mentor untuk konsultasi mengenai Rokus. Poin penting dari mentor adalah mengenai pertumbuhan bisnis, jadi kita harus menunjukan kalo Rokus bisa growth, walaupun 2 minggu penjualan belum bisa memperlihatkan trend penjualan Rokus. Jadi selama 2 minggu terakhir ini kami harus bisa melakukan analisis terhadap hasil penjualan Rokus setiap hari. Untuk melihat apa yang menyebabkan penjualan tinggi (>30 buah) atau rendah, kemudian dari analisis itu akan dihasilkan rekomendasi yang diberikan kepada tiap klien Rokus agar penjualannya bisa terus meningkat.

Story About Rokus #6

Kunjungan ke-9
7 Oktober 2012
Verry Anggara

Agenda kami berikutnya adalah membeli kompor dan buleng yang akan digunakan pada gerobak Rokus. Sebenarnya ini sudah kami agendakan dari 2 minggu yang lalu namun dikarenakan dana dari Unilever yang tak kunjung turun, timeline kami kemudian terus mundur, bahkan terkadang kami menggunakan uang pribadi kami untuk membiayai keperluan Rokus yang benar-benar penting. Uang yang kali ini akan kami gunakan untuk membeli kompor dan buleng berasal dari uang pribadi kami dan sebagian dari uang yang dipinjamkan teman/saudara

Kunjungan kali ini sebenarnya direncanakan untuk dilaksanakan pada tanggal 6 Agustus, awalnya saya dan William yang mendapat giliran untuk berkunjung kesana. namun karena ada miskomunikasi akhirnya kunjungan pada hari sabtu tersebut batal. Kami kemudian mengagendakan untuk berangkat ke CIlincing pada hari minggu, namun sayangnya karena ada acara keluarga yang tidak bisa saya tinggalkan maka saya tidak bisa menemani William untuk berkunjung ke CIlincing pada hari minggu tanggal 7 tersebut. Untuk mengganti kunjungan tersebut saya kemudian mengagendakan untuk berkunjung pada hari Senin tanggal 8 Agustus. William tidak bisa ikut karena ada janji dengan dosen pada hari itu.

Pada hari senin saya berangkat sendiri dari rumah Saudara di daerah Slipi ke CIlincing sekitar jam 9 pagi. Disana saya langsung menuju ke pasar Kalibaru untuk mendatangi toko tempat penjual kompor dan buleng yang sbelumnya sudah disurvey oleh William dan Vincent. Pertama saya membeli kompor Rinnai sebanyak 3 buah seharga Rp 375.000, dan selang gas seharga Rp 195.000. kemudian setelah membeli kompor saya kemudian mencari tempat untuk mencari buleng yang persis sama dengan buleng yang digunakan oleh William di gerobaknya di bandung. Namun sayangnya setelah berkeliling cukup lama, saya tak menemukan buleng seperti itu, ada beberapa buleng dengan desain yang berbeda namun saya khawatir hasilnya akan berbeda bila digunakan untuk Rokus.

Karena sudah sore dan tidak menemukan buleng yang diinginkan, saya kemudian mengantarkan kompor yang telah dibeli tadi ke Bu Yus untuk disimpan sementara. Saya meminta tolong kepada bu Yus untuk mencari Buleng keesokan harinya di pasar Kalibaru. Setelah menyerahkan uang dan berbincang-bincang cukup lama saya kemudian kembali ke Bandung. Kami berharap secepatnya klien kami bisa berjualan untuk membantu pemasukan keluarga mereka

 

Kunjungan ke-10
14 Oktober 2012
William Lautama

Dalam kunjungan kali ini William bertemu dengan ke3 mitra Rokus di Cilincing yang berperan sebagai penjual dalam operasional sehari-hari Rokus. Maaf gambarnya kurang jelas

Bu Wiwid, Bu Emi, dan Bu Yus

Bu Wiwid sebagai mitra
Bu Emi sebagai mitra
Bu Yus sebagai mitra dan supervisor

Bu Emi merupakan calon mitra yang baru dikenal karena calon mitra sebelumnya bekerja selagi menunggu persiapan Rokus. Bu Emi, seperti ibu yang lainnya, juga memiliki 3 orang anak yang masih duduk di bangku SD dan SMP. William berkenalan dan menjelaskan konsep Rokus sampai operasional secara detail. Ada kontrak yang wajib disepakati antara Rokus dan mitra Rokus. Terlihat jelas dari raut muka dan nada bicara ke-3 calon mitra Rokus tidak merasa nyaman dengan adanya kontrak ini, maka William menjelaskan dan memotivasi ke-3 calon mitra Rokus supaya mengerti dan mau menandatangani kontrak. Tantangan yang besar untuk memotivasi supaya mereka mengerti keberadaan kontrak ini sebab biasanya mereka bekerja atau kehidupan sehari-hari hampir tidak pernah menggunakan kontrak. Setelah dibantu supervisor Rokus (Bu Yus) yang memberi penjelasan, ke-2 mitra lainnya mau mengerti dan menandatangani kontrak tersebut.

Komponen sumber daya Rokus dari sisi fasilitas operasional (solet, buleung, kompor, dan lain-lain) dan gerobak juga sudah ada. Rokus di Cilincing sudah bisa memulai penjualan secepatnya setelah membeli bahan baku (selai dan roti kukus).

Story About Rokus #5

Kunjungan ke-8
30 September 2012
Vincent & Hendydy Kwik

Sudah sebulan lebih projek ULAS berjalan, semangat & motivasi kami (tim Rokus) sempat turun untuk melanjutkan projek ULAS tersebut. Cukup banyak masalah yang datang; tidak semudah yang kami perkirakan di awal projek saat perencaan. Seperti pada umumnya, lebih mudah merencanakan daripada melakukan dan hal ini benar-benar terbukti. Salah satu hal yang membuat semangat dan motivasi turun adalah merasa cukup jenuh dan capek karena kami harus bolak-balik Bandung-Jakarta hampir setiap minggu, keterbatasan transportasi untuk menjangkau Cilincing, masih belum mendapatkan supplier roti yang menjadi hal yang sangat penting, pencairan dana tahap dua yang belum turun dimana kelompok kami benar-benar membutuhkan dana tersebut untuk melanjutkan tahap berikutnya, membagi waktu kuliah dengan tugas-tugas cukup banyak, tugas akhir, serta kegiatan lainnya benar-benar menguras waktu dan energi.

Setelah bertemu dengan para mentor dan NGO-KKI, kami mulai bangkit kembali. Berbagai masukan, pendapat, motivasi, serta dorongan dari para mentor dan NGO membuat kami lebih bersemangat lagi untuk menjalankan projek ULAS ini.

 

Minggu, 30 September 2012, Vincent dan Hendydy berangkat dari Bandung ke Jakarta untuk menyelesaikan hal-hal yang sempat tertunda dengan masukan dari para mentor dan NGO. Dari Bandung, kami sudah membawa selai yang akan menjadi varian roti kukus yang akan dijual yaitu coklat, blueberry, strawberry, dan kacang dimana merupakan rasa yang cukup populer dan disukai oleh masyarakat pada umumnya. Sesampainya di Jakarta, kami langsung ke Cilincing.

Hal pertama yang kami lakukan adalah ke tempat pembuat gerobak di mana kami sudah berjanji akan melunasi gerobak yang kami pesan (Sebenarnya gerobak tersebut sudah jadi dari minggu lalu, 23 September 2012 dan dikarenakan dana masih belum turun maka kami meminta pengertian dan kesediaan pembuat gerobak untuk menunggu). Kami berusaha melunasi gerobak tersebut dengan uang pribadi yang kami kumpulkan sambil menunggu dana tahap kedua dari Unilever Indonesia. Kami mengecek semua gerobak pesanan kami telah sesuai dengan spesifikasi yang kami minta. Ada sedikit perbaikan dan penyempurnaan terakhir yang harus dilakukan sebelum diantar.

Sambil menunggu perbaikan dan penyempurnaan terakhir, kami pun berkunjung ke rumah Ibu Yus terlebih dahulu untuk ngobrol dan memberitahu persiapan terakhir kami. Kami menitipkan selai yang telah dibawa dari Bandung kemudian kami pun ke pasar setempat untuk membeli berbagai perlengkapan untuk menjual. Mulai dari mentega, keju, susu kental, kotak selai, capitan roti, pisau roti, talenan, tabung gas, dan lain-lain. Kami berkeliling untuk membeli peralatan tersebut hingga sore. Kami juga membeli rantai dan gembok untuk masing-masing gerobak agar gerobak tersebut aman dan tidak dicuri. Peralatan yang belum terbeli adalah kompor gas beserta selang dan bulengan karena uang yang kami kumpulkan sendiri sudah tidak cukup untuk membeli peralatan tersebut.

Setelah selesai mencari peralatan yang dibutuhkan, kami pun kembali ke tempat pembuatan gerobak dan semua gerobak telah selesai dibuat dengan sempurna. Kemudian gerobak tersebut pun diantar : satu gerobak diantar ke rumah Bu Yus dan dua gerobak lainnya diantar ke rumah Bu Wiwid. Persiapan menjual pun uda mencapai 70%. Semua peralatan dan barang yang dibeli sudah dibagi menjadi 3 bagian buat masing-masing gerobak. Tinggal kompor gas, selang, dan bulengan yang belum dibeli serta desain untuk gerobak dan menu.

Sebelum meninggalkan Cilincing, kami pun mengunjungi rumah Bapak Haji Baso, pemilik Alfamart yang akan menjadi tempat kami untuk berjualan roti kukus. Kami bertemu dengan Ibu Mus, istri Bapak Haji Baso dan beliau telah memberi izin buat kami berjualan dengan harga Rp 300.000 perbulan. Bu Mus tidak keberatan kalau kami menaruh gerobak kami di sana walaupun masih belum berjualan dan uang sewa bisa menyusul setelah mulai berjualan. Hal ini merupakan hal yang sangat positif menurut kami.

Setelah itu, kami singgah kembali ke rumah Bu Yus karena mau bertemu dengan salah satu teman Bu Yus yaitu Bapak Ahmadi yang akan menjadi mitra kami untuk mengambil roti di daerah Jelambar. Produsen roti yang kami dapatkan belum bersedia mengantar roti tersebut ke daerah Cilincing sehingga mitra kami harus mengambil sendiri ke produsen roti tersebut. Dikarena mitra penjual kami adalah ibu-ibu dan tidak memiliki motor sehingga kami bekerja sama dengan Bapak Ahmadi untuk mengambil roti tersebut di malam hari setelah Bapak Ahmadi pulang kerja. Kami pun berangkat bareng beserta Bapak Ahmadi dan anak Bu Yus, Mas Eko untuk mengetahui lokasi produsen roti.

Salah satu yang cukup menarik dan membuat kami sadari esensi dari projek ULAS di Cilincing adalah ketika akan pulang ke rumah saudara kami di Jakarta. Motor yang kami bawa kebetulan lampunya putus sehingga harus diganti terlebih dahulu (sudah malam sehingga cukup berbahaya membawa motor tanpa lampu depan). Kami singgah ke salah satu bengkel untuk memperbaiki lampu motor tersebut. Di bengkel tersebut, ada salah seorang montir yang memperbaiki lampu motor kami. Menurut kami montir tersebut sangat ramah dan sabar sekali. Dia bertanya kepada kami, kenapa kalian kelihatan buru-buru banget sambil memperbaiki lampu motor. Gak apa-apa kok mas, bisa diperbaiki, ini pasti ada maksudnya. Kalau sudah begini, tenang saja. Sambil menunggu lampu tersebut diperbaiki, kami sempat ngobrol dengan anak Bu Yus dan mas Eko.

Vincent : Mas, sudah umur berapa sekarang? Masih sekolah mas?
Mas : Seharusnya sudah kuliah mas, tetapi saya sampai tamat SMA saja, enggak punya uang buat lanjut kuliah.
Vincent : Jadi sekarang sibuk ngapain saja mas? Lagi bantu orang tua?
Mas : Lagi cari kerja sih mas, baru belakangan ini berhenti bekerja.
Vincent : Sebelumnya kerja di mana mas?
Mas : Sempat kerja di kapal penangkap ikan di Bali mas, tapi sudah berhenti.
Vincent : Kenapa mas?
Mas : Awalnya ditawarin sama teman warga Cilincing juga, mau kerja di kapal pengangkapan ikan enggak? Gajinya lumayan besar lho. Dikarenakan harus membantu orang tua, saya bersedia bekerja untuk membantu orang tua. Sesampainya di kapal penangkap ikan, saya dipaksa bekerja dari jam kerja biasa (suka disuruh lembur), tidak dikasih istirahat. Gaji yang diberikan tidak sesuai yang dijanjikan, hanya setengah dari yang dijanjikan. Tidak boleh berhubungan dengan keluarga, hanya saat keadaan yang sangat penting dan darurat saja dan itu pun harus melalui kapten kapal. Saya dikontrak selama sepuluh bulan. Kalau di kapal ada masalah, keluarga tidak akan diberitahu kabar dari anggota keluarganya. Malah keluarga sempat berpikir saya sudah meninggal karena sempat ada kabar kalau ada kapal yang tenggelam.
Vincent : Jadi sekarang masih cari kerja ya?
Mas : iya mas.
Vincent : (Dalam hati, kasihan juga ya. Berasa beruntung masih dapat kesempatan kuliah sedangkan orang lain harus sudah bekerja membantu orang tua dan keluarga).

*Lampu motor pun telah selesai diperbaiki. Monitir tersebut pun mengatakan : hati-hati mas pulangnya (ketemu orang-orang yang benar-benar ramah, terasa beda).

 

Side story : Mas Eko menurut kami ada sedikit keterbatasan, mempunyai keterbatasan fisik dengan ukuran tubuh. Tetapi yang membuat kami terkagum adalah semangat beliau untuk bekerja. Walaupun mempunyai sedikit keterbatasan fisik, masih mampu bekerja seperti manusia biasa lainnya. Hal yang luar biasa adalah dia mau membantu kami untuk mengambil roti ke Jelambar dari Cilincing (beliau bekerja di daerah Sunter, jadi sepulang kerja dari Sunter singgah ke Jelambar terlebih dahulu untuk mengambil roti). Dari Cilincing ke Jelambar menurut kami lumayan jauh, akan tetapi ketika sampai di tempat produsen roti, dia mengatakan sambil senyum tulus “tempatnya cukup dekat” padahal tadi jalannya agak muter-muter. (Kami yang membawa jalan dari Cilincing ke Jelambar, kebetulan kami bukan orang Jakarta juga). Dalam hati, padahal menurut kami jarak tersebut lumayan jauh. Bapak Ahmadi bersedia menjadi mitra kami untuk mengambil roti dari Jelambar ke Cilincing dan kami akan membayarnya setiap pengambilan.

Sore hari sekitar jam 5 kami pun berpisah dan pulang ke tempat masing-masing. Setelah pulang rumah, kami baru benar-benar menyadari esensi dari projek ULAS ini selama ini dari orang-orang yang kami temui seharian di Cilincing. Agak susah diungkapkan dengan kata-kata tetapi bisa dibilang senang sekali dapat membantu orang lain yang kurang mampu dengan kemampuan yang kami miliki (Apalagi mendapat dana dari Unilever dan kami tinggal menjalankan projek tersebut dengan mendapat bimbingan dari pihak Unilever beserta mentor-mentor dan NGO). Kadang kita suka merasa masalah yang kita hadapai sangat sulit sekali, padahal baru masalah kecil yang berhubungan dengan masalah kuliah atau pribadi. Akan tetapi, orang-orang tersebut harus menghadapi berbagai masalah, masalah keluarga, biaya hidup, bagaimana cara mendapatkan penghasilan tambahan, membantu orang tua, dan masih banyak lainnya.

Bahagia itu sederhana sekali :D

Story About Rokus #4

Kunjungan ke-7
23 September 2012
Verry Anggara

 

Kunjungan kali ini hanya dilakukan oleh  Verry Anggara seorang karena rekan-rekan yang lain berhalangan hadir karena ada kegiatan/urusan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Agenda untuk kunjungan kali ini adalah :

  1.  Mengecek progress gerobak
  2. Survey ke calon Supplier Roti (Mas Eko)
  3. Penjurian
  4. Kunjungan ke calon tempat jualan (RS Pasir Koja)
  5. Bertemu dengan pak Haji Baso (Pemilik Alfamart Kalibaru, salah satu calon tempat jualan)
  6. Membeli gembok dan rantai untuk gerobak

 

Verry mengunjungi CIlincing sejak jam 9 pagi. Tempat pertama yang dikunjungi adalah tempat pembuatan gerobak (Mulia Baru ALuminium), dia berdiskusi dengan penjual gerobak dan memantau perkembangan gerobak. Gerobak yang dipesan sudah jadi, tinggal dipasangi kaca saja. Kaca ini belum dipasang sebelum gerobak diantarkan ke klien agar menghindari resiko pecah saat disimpan. Seharusnya kami sudah melunasi dan mengambil gerobak pada hari tersebut namun uang tahap 1 dari Unlever sudah habis untuk DP dan transportsi. Pemilik Mulia Baru ALuminium mengatakan bahwa apabila gerobaknya ditinggal untuk waktu yang lama akan mengganggu proses produksi mereka, karena tempat kerja mereka yang kecil sehingga apabila pesanan yang belum diambil menumpuk akan menyebabkan ruang kerja mereka makin sempit. Kami belum bisa melunasinya dan berencana untuk membayarnya minggu depan. Terima kasih untuk pemilik Mulia baru ALuminium yang mengerti kondisi tim Rokus.

Setelah memilih jenis kaca yang akan digunakan untuk gerobak, Verry bertemu dengan bu Yus di rumahnya. Kemudian mereka mengunjungi depot calon supplier roti yang berada di Cilincing, mas Eko, yang berjarak sekitar 2-3 km dari rumah Bu Yus. Di depot, tersedia berbagai jenis roti yang mas Eko sediakan untuk penjual roti yang ada di CIlincing. Roti yang ditawarkan mas Eko untuk menjadi bahan baku adalah roti “Moca”.

Roti Moca

 

Roti ini diproduksi rutin oleh mas Eko dan biasanya dijual dengan isi selai berbagai rasa. Ada perbedaan antara roti Moca dengan roti yang kami gunakan di Bandung, roti ini memiliki ukuran yang lebih besar, dan tekstur yang lebih halus. Roti ini dijual dengan harga Rp1.500 dan mas Eko menyanggupi untuk mengantar roti tiap hari sesuai pesanan kami. Mas Eko tidak perlu dibuatkan kontrak kerjasama, cukup bayar tunai saja begitu roti sudah diantar. Verry masih belum close deal dengan mas Eko karena harga bahan baku roti yang terlalu mahal dan masih perlu dibicarakan dengan tim.

Lalu kami bertemu dengan Bu Indri dan Bu SInta, tim Juri dari Unilever yang akan mengunjungi Cilincing. Kami bertemu juri di Alfamart kalibaru, yang merupakan salah satu calon tempat jualan kami nantinya. Verry mengenalkan tim juri dengan bu Yus dan dibawa untuk melihat gerobak kami yang sudah 90% jadi. Tim Juri memberi banyak tanggapan positif dan masukan untuk Rokus, mencari lebih banyak calon klien untuk mengantisipasi calon klien yang mengundurkan diri serta untuk memperhatikan kebersihan produk makanan yang kami jual.

 

Setelah berdiskusi sekitar 1 jam, tim Juri pamit dan tak lama kemudian bu Yus juga pulang. Kemudian Verry melanjutkan survey ke Kantin RS Pasir Koja yang merupakan salah satu alternatif tempat jualan kami. Tempat tersebut memang ramai pengunjung dan sangat menjanjikan untuk berjualan. Hanya saja biaya sewa tempat tersebut cukup mahal, yaitu Rp1.000.0000 untuk 2 bulan pertama, bulan berikutnya Rp300.000. Selain di areal kantin rumah sakit, sebenarnya pedagang yang ingin berjualan di RS Pasir Koja juga bisa berjualan di area luar rumah sakit. Untuk berjualan, hanya perlu izin di RT setempat namun opsi tersebut illegal karena tidak ada izin resmi dan beresiko mengalami penggusuran apabila ada razia dari Satpol PP.

Setelah dari rumah Sakit pasir Koja, Verry menuju ke rumah Pak Haji Baso, pemilik Alfamart kalibaru sebagai tempat jualan produk Rokus. Verry ingin bertemu untuk menandatangai kesepakatan kerjasama, sebelumnya kita sudah janji untuk bertemu dengan Pak Haji Baso di rumahnya jam 2 sore sejak 2 hari sebelumnya, namun sayangnya setelah menunggu dari jam 2 – 4 sore di rumahnya ternyata pak Haji Baso tak kunjung datang. Setelah Verry telepon, ternyata beliau sedang di rumah sakit untuk menjenguk keponakannya yang habis operasi.

 

Senin 24 September 2012

Hari Senin 24 September 2012, Bu Indri datang ke Bandung sebagai pembicara seminar Unilever di ITB. Sebelum seminar, dia ingin mengunjungi depot rokus yang ada di Bandung. Bu Indri tiba di bandung sekitar pukul 10, lalu dijemput Verry dan diantar ke depot rokus milik WIlliam yang ada di daerah pelesiran. Setibanya di depot tersebut, William yang sudah menunggu kemudian menjelaskan mengenai cara pembuatan roti kukus. Bu Indri juga menyempatkan untuk mencoba beberapa varian roti kukus yang kami buat. Dalam kunjungan tersebut kami juga berdiskusi banyak mengenai perkembangan lomba ULAS dan perkembangan tim lain.

Terkait Rokus, awalnya kami diragukan di awal periode project berjalan karena berbagai kendala di lapangan namun setelah Bu Indri melihat lokasi di Cilincing dan berdiskusi langsung dengan kami, dia yakin project Rokus bisa berjalan dan memberi dampak positif bagi masyarakat Cilincing.

Story About ULAS #3

Kunjungan ke-4

Dalam kunjungan ke-4, kami melakukan pendekatan ke supervisor dan warga yang akan menjadi mitra untuk menjual roti kukus. Kami berkunjung ke Koperasi Kasih Indonesia (KKI), bertemu Kak Leon dan pergi ke pasar untuk mencari supplier roti.

  • Penjual roti Rahmat

Lokasi : dekat tempat DVD.

Kami kembali ke tempat penjual roti Rahmat, tetapi tidak bisa menemukan roti tersebut karena rotinya sudah habis terjual.

  • Pak Jumedi

Dia memberi informasi untuk menjadi roti di :

PD. Marisa Food

Ruko Angke Permai

Jl. Jelambar Fajar No.3/3 Jakarta Utara

Rotinya sudah habis, namun dia menawarkan roti bulat untuk dipanggang; Rp 5500 (19-20 biji).

 

Kami juga mencari spot untuk tempat berjualan

  • Depot + tempat jual tanpa gerobak (Rp 550.000/bulan)

Jl. Kelapa dua (agak masuk gang dikit, tapi langsung jalan raya; bisa masuk motor dan parkir; lalu lintas orang yang lewat juga ok).

  • Depan Indomaret (lalu lintas orang yang lewat ok)

Cilincing Baru; Jl. Ancol 1/9 10, Ancol (Sebulan Rp 450.000

Hub : Pak Sugi 70095263

  • Depan Alfa mart (lalu lintas orang yang lewat ok)
  • Depan mini market lestari (samping pasar; lalu lintas orang yang lewat ok)
  • Dekat Sekolah SMA 74 (potensi paling besar untuk nitip jual – konsinyasi)

Ada sekitar 10 sekolah dekat sana (SD/SMP Strada; SD/SMP/SMA Darul Malib; SMP Nurul Pala; Sekolah SMP/SMA; SD Nurul Pala; SMA 114; SMP 244; SMP 266; SMP 143; SD/SMP Sahid; SMK 5; PGRI; SMK 4; SMK 15; SMP 200; SMA 115; SMK 49; SMAN 5; Dayarat; SMAK 5)

 

Diskusi dengan Kak Leon (15-20 minutes)

  • Bagaimana meningkatkan motivasi & semangat klien untuk menjual?
  • Buat persiapan ketika ditanya oleh supervisor & klien.
  • Perlu control untuk pilot project; agar bisa ditiru oleh klien berikutnya.

Dilanjutkan dengan bertemu Bu Yus (supervisor) dan Bu Wiwid.

 

Kunjungan ke-5
Minggu, 9 September 2012

 

Kami be-4 pergi ke Cilincing & bertemu dengan pembuat gerobak, dengan dana tahap pertama yang diberikan Unilever kami membayar DP untuk pemesanan 3 buah gerobak. Dengan ukuran 1,5m x 0,8m x 2m.

 

Kemudian kami pergi mengunjungi Bu Yus (supervisor Rokus di Cilincing), diskusi mengenai markas Rokus untuk menyimpan bahan baku (selai & roti kukus) dan Bu Yus bersedia rumahnya digunakan sebagai markas Rokus.

Spot penjualan yang disewakan berlokasi di depan alfamart milik Pak Haji Baso, namun beliau tidak adal di rumah ketika kami mengunjungi rumahnya. Kami akan mengontaknya untuk fiksasi spot penjualan & kontrak perjanjian.

 

Kunjungan ke-6
William, Vincent & Hendydy
16 September 2012
3 hal yang kami lakukan :

1. Fiksasi spot penjualan

Spot penjualan yang sudah fix adalah di depan Alfamart di daerah Cilincing, sayangnya pemilik Alfamart ini tidak bisa ditemui namun dari pembicaraan melalui telepon sudah fix, yang tersisa adalah kontrak.

2. Memantau pembuatan Gerobak

Kami juga memantau pembuatan 3 buah gerobak, menambahkan beberapa spesifikasi gerobak dan pengerjaan dijanjikan selesai minggu depan.

3. Training cara pembuatan roti dengan Bu Yus, Bu

William membawa bahan baku : roti, keju, selai dan susu kaleng dari Bandung. Kami semua berkumpul di rumah supervisor (Bu Yus), di sana terlah berkumpul Bu Yus, Bu Wiwit, dan Bu Murtini. Kami mengajarkan proses pembuatan roti kukus melalui video & praktek lalu diskusi mengenai teknik penjualan.

Story About ULAS #2

Di bulan Juli 2012

William Lautama (gw sendiri), Vincent Chow, Verry Anggara, dan Hendydy Kwik sebagai tim Rokus, mengikuti Unilever Leadership Actions on Sustainability (ULAS). ULAS adalah program yang diinisiasi oleh Unilever Indonesia dan FEUI yang menggerakkan pemuda untuk melakukan aksi nyata berbasis sustainability dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di masyarakat. informasi lebih lengkap di http://unilever-ulas.com

Rokus adalah “roti kukus waralaba” yang akan memberikan fasilitas (gerobak, seragam, bahan) dan edukasi (dasar akuntansi dan manajemen) untuk masyarakat yang kurang mampu agar mereka dapat menjalankan bisnis roti kukus untuk mendapatkan penghasilan lebih, mencapai kesejahteraan, dan kehidupan yang lebih baik. Keuntungan dari penjualan akan digunakan untuk menyediakan fasilitas lainnya bagi mereka yang membutuhkan sebanyak mungkin untuk memastikan bahwa ini adalah apa yang kita sebut “Sustainability“. Video tentang ide kami klik di sini.

 

Kunjungan ke-1

William & Vincent mengunjungi pasar tradisional Cilincing. Kami mencari toko yang menjual fasilitas yang dibutuhkan untuk kegiatan operasional Rokus seperti : pisau, toples, tabung gas, buleung, lap talenan, solet, dan lain-lain.

 

Selain fasilitas, kami juga mencari warung yang menjual selai.

 

Kunjungan ke-2

Hendydy dan Verry mencari supplier dan vendor untuk membuat Gerobak. Kami menemukan beberapa toko yang spesialis pembuat berbagai peralatan dari aluminium. Toko tersebut menawarkan harga gerobak ± 2 juta Rupiah untuk desain yang kami berikan.

 

Kunjungan ke-3

Setelah berdiskusi dengan kedua mentor, ada beberapa hal yang harus di follow-up secepatnya yaitu, supplier roti, supplier selai (karena kami ingin menggunakan kualitas selai yang lebih baik dari selai yang dijual di pasar tradisional Cilincing), dan supplier gerobak.

Kunjungan ke-3 di Cilincing, kami mencari beberapa spot penjualan gerobak roti kukus. Kami memilih sewa teras di Alfamart & Indomaret di sekitar Cilincing dengan lalu lintas ± 300 orang/hari di setiap toko.

 

Persiapan berikutnya adalah bahan baku, mencari mitra & fiksasi lokasi penjualan :D