web analytics

Posts tagged ·

Cilincing

·...

Rokus untuk Cilincing

no comments

Di Indonesia masih banyak penduduk yang hidup serba kekurangan di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan merupakan akar dari semua permasalahan sosial yang dihadapi yaitu masalah pendidikan, kesehatan, lingkungan dan tempat tinggal yang layak, kelaparan, dan masih banyak lagi. Kemiskinan tersebut juga merupakan sebuah siklus dan diperlukan tindakan nyata yang memutuskan mata rantai kemiskinan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat Indonesia.

Karena kemiskinan, jutaan orang tidak bisa menikmati PENDIDIKAN sehingga mereka tidak berpengetahuan.
Karena kemiskinan, jutaan orang tidak mampu memenuhi kebutuhan primer dengan layak sehingga mereka lapar atau makan sembarangan dan pada akhirnya sakit serta sulit mendapatkan layanan KESEHATAN bagi masyarakat kurang mampu.
Karena kemiskinan, jutaan orang hanya mampu hidup dengan kondisi TEMPAT TINGGAL yang buruk.

Masyarakat miskin masih ditemukan di kota besar seperti Jakarta. Cilincing adalah sebuah daerah di Jakarta Utara dengan tingkat kemiskinan terbesar, mencapai ±19.000 keluarga (30% penduduk miskin di Jakarta Utara). Di kelurahan Kalibaru di daerah Cilincing ada ±8.400 keluarga miskin. Definisi miskin adalah hidup dengan pendapatan kurang dari $2 per hari atau sekitar Rp 19.000 saat tulisan ini dibuat (sumber : World Bank).

Cilincing, Jakarta Utara

Prihatin dengan keadaan yang terjadi di Cilincing ini, Juli 2012 lalu saya mengajak teman-teman melakukan perubahan di Cilincing. Bersama Hendydy Kwik, Vincent, dan Verry Anggara. Kami berempat mengikuti Unilever Leadership Actions on Sustainability (ULAS) dan bekerja sama dengan Koperasi Kasih Indonesia (KKI). ULAS adalah program yang diinisiasi oleh Unilever Indonesia dan FEUI yang mendukung pemuda melakukan aksi nyata berbasis sustainability dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di masyarakat. KKI adalah sebuah lembaga microfinance yang memberikan pinjaman, edukasi, dan dukungan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat Cilincing.

Program kami bernama “Rokus : Roti kukus” yang menggunakan konsep waralaba/franchise. Kami melakukan inovasi bisnis model franchise yang umumnya berorientasi profit menjadi sosial. Kami menyediakan fasilitas (gerobak, peralatan, bahan) dan edukasi (dasar akuntansi dan manajemen) dengan dukungan dana dari Unilever untuk masyarakat yang kurang mampu agar mereka dapat menjalankan bisnis roti kukus dan bertujuan mendapatkan penghasilan lebih, mencapai kesejahteraan, dan kehidupan yang lebih baik. Sebagian besar keuntungan dari penjualan akan digunakan untuk mitra dan sebagian kecil disimpan untuk menyediakan fasilitas lain bagi mereka yang membutuhkan sebanyak mungkin sebagai konsep Sustainability, sehingga rokus dapat membanu kehidupan mitra saat ini dan calon mitra di masa depan. Rokus dalam bentuk video bisa dilihat di sini.

Dalam prosesnya kami menemukan beberapa kendala, yaitu : pertama jarak antara kami (yang berkuliah di Bandung) dengan para mitra di Cilincing yang cukup jauh sehingga kami membutuhkan waktu lebih panjang untuk tiba di Cilincing. Kami harus menempuh perjalanan subuh menggunakan travel dari Bandung ke Jakarta. Kedua, bahan baku cukup sulit ditemukan sehingga memakan banyak waktu dan tenaga. Ketiga, pencarian dan penawaran berbagai macam peralatan yang dibutuhkan dimana semua yang dibutuhkan untuk program ini harus memenuhi standar yang kami tetapkan.

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, gerobak Rokus siap beroperasi. Senyuman terpancar jelas dari mitra untuk memulai awal yang baru dan lebih baik.

Sejak 5 Agustus 2012, setiap akhir minggu kami secara bergantian mengunjungi Cilincing untuk mengeksekusi program rokus. Penjualan rokus telah berlangsung selama sebulan dan menunjukkan hasil yang cukup memuaskan untuk menambah penghasilan. Mitra kami saat ini memiliki penghasilan Rp 10.000 – Rp 35.000 per hari. Penghasilan ini mereka gunakan untuk biaya hidup sehari-hari Bu Yus, uang sekolah anak Bu Emi, dan sepeda anak Bu Wiwit sebagai hasil nyata program rokus. Kami percaya perubahan ini akan  merubah nasib mereka sedikit demi sedikit.

Modal awal Rp 720.000 yang kami berikan di awal penjualan bertambah menjadi Rp 1.780.000 (bertumbuh 147%). Walaupun penjualannya masih fluktuatif, kami optimis rokus akan terus bertumbuh sambil tetap memberikan dukungan. Salah satu hal terpenting yang kami lakukan adalah mengedukasi warga yang dulunya menganggur dan sesekali dibayar untuk membersihkan kulit kerang menjadi individu yang memiliki keberanian dan sense bisnis untuk menjalankan usaha. Ada yang berinisiatif mencari pesanan dari arisan ibu-ibu di Cilincing atau menjual produk lain yang bisa mereka buat (es kacang) sambil berjualan roti.

Untuk mendapatkan sesuatu yang besar, diperlukan pengorbanan yang sepadan. Saya yakin semua pengorbanan dan usaha yang kami lakukan melalui program rokus dalam bentuk waktu, tenaga, pikiran, dan lain-lain akan berkembang serta menjadi solusi yang sustainable untuk membantu masyarakat Indonesia lebih banyak lagi.

 

Terimakasih
William Lautama
Tulisan ini adalah Aksi Untuk Indonesiaku di Lintas.Me

Story About Rokus #8

no comments

Kunjungan ke-13
10 November 2012
William Lautama, Vincent & Hendydy Kwik

Timeline project akan selesai 14 November, kami bersyukur Rokus dengan 3 mitra sudah berjalan selama 3 minggu dengan tantangan halang merintang yang memberikan kami pengalaman berharga untuk berpikir & bekerja keras menghadapi dinamika lapangan yang di luar ekspektasi. Hari ini kami berkumpul di rumah Bu Yus untuk berdiskusi mengevaluasi perkembangan Rokus. Secara keseluruhan, mitra mengaku sangat terbantu dengan kehadiran Rokus. Uang penghasilan dari Rokus digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari, menambah uang untuk membeli sepeda anaknya, dan bayar uang sekolah. Bentuk Rokus adalah social enterprise maka KPI Rokus adalah financial performance dengan pertumbuhan 146% terhitung sejak Rokus mulai berjualan 16 Oktober 2012.

 

Tantangan mitra saat ini :

  • Bu Yus (14 roti kukus/hari)
    Penjualan menurun karena banyak warga yang mengontrak di kontrakan Bu Yus pindah sejak sistem pembayaran listrik menggunakan sistem voucher.
  • Bu Wiwit (20 roti kukus/hari)
    Penjualan Bu Wiwit cukup baik ditambah ada kabar baik dalam waktu 1 bulan tempat les dekat rumah Bu Wiwit akan dibuka.
  • Bu Emi (17 roti kukus/hari)
    Penjualan menurun karena ada warga yang meniru bisnis roti kukus dengan lokasi lebih strategis (tepat di pinggir persimpangan) dengan harga lebih murah, kami & juri terkejut karena roti kukus ini belum berjalan 1 bulan namun sudah ditiru.

Berdasarkan identifikasi di atas, permasalahan mitra Rokus saat ini adalah lokasi yang kurang mendukung maka kami mencari beberapa lokasi alternatif baru yang dekat dengan rumah mitra karena mereka harus menjaga anak-anaknya di samping berjualan rokti kukus.

Kiri – kanan : Hendydy, William, Bu Wiwit & anaknya, Bu Emi & anaknya, Bu Yus, Joshua (perwakilan dari MSS FEUI), Bu Indri (juri dari Unilever), Mas Sauta (mentor dari Unilever), Mbak Dwi (dosen FEUI), dan Vincent. Verry sedang sakit sehingga tidak bisa ikut.

Setelah foto bersama, kami menawarkan juri & mentor mencicipi produk roti kukus. Kami senang dengan kedatangan juri & mentor sehingga mereka bisa melihat lokasi Cilincing, mitra, dan ide perubahan yang kami rencanakan 3 bulan lalu. Sementara menunggu Bu Yus membuatkan roti, kami ngobrol-ngobrol lebih santai. Juri & mentor menghargai apa yang kami lakukan dan menurut mereka tim Rokus cukup sukses membawa perubahan di Cilincing :D

Kami cerita tentang kesan & proses pembelajaran selama ULAS. Secara keseluruhan & personal, kami memiliki cerita masing-masing. Kesan William, details do matter! Di minggu ke-3 project ketika konsultasi dengan mentor, saya belajar dinamika lapangan sangat menantang & ternyata tim Rokus memiliki banyak ‘lubang’ dalam perencanaan. Kesan Vincent, project Rokus ini semakin menggelitik jiwa sosial melihat orang-orang dengan kondisi kekurangan yang butuh bantuan kita. Terakhir, Hendydy bersyukur our efforts do matter! Beberapa kali, perjalanan dia tempuh naik motor dari Grogol ke Cilincing. Jarak yang cukup jauh dengan suhu Jakarta yang panas tidak menghalanginya. Kami be-4 bergantian ke Cilincing dan setiap weekend selalu ada yang datang. Pagi hari naik travel dari Bandung, sampai di Kelapa Gading, dilanjutkan naik busway, dan angkot ke lokasi. Kerja keras yang terbayarkan membuat kita semua bangga sudah melakukan sesuatu :D

@WilliamLautama

Story About Rokus #7

no comments

Kunjungan ke-11
27 Oktober 2012
Vincent & Hendydy Kwik

Tim Rokus kembali ke Cilincing untuk mengunjungi para mitra yang sudah memulai penjualan roti kukus sejak tanggal 16 Oktober 2012. Kami pergi ke tempat Bu Yus selaku kepala Mitra yang membantu mengoordinir mitra-mitra Rokus lainnya.

Sesampainya di depan rumah Bu Yus, terlihat ada pembeli yang sedang menunggu Bu Yus membuatkan roti kukus. Kami pun melihat bagaimana cara Bu Yus membuat roti kukus yang sudah pernah kami berikan pelatihan dan hasilnya memuaskan. Setelah melayani pembeli yang datang, kami diajak ke rumah Bu Yus untuk ngobrol-ngobrol. Kami menanyakan perkembangan penjualan dari Bu Yus beserta dengan mitra yang lain. Untuk Bu Yus sendiri, penjualan dari hari ke hari cukup stabil, ±20 buah/hari. Kalau lagi ramai sekali, bisa mencapai 30 buah. Untuk mitra yang lain, penjualan Rokus juga hampir sama banyak, ±20 buah/hari. Rokus dengan rasa coklat, strawberry, susu, dan keju merupakan favorit dan paling sering dipesan oleh para pembeli.

Melihat keseriusan para mitra untuk melakukan penjualan dari hari ke hari membuat tim kami lebih bersemangat lagi dalam ULAS ini. Kami pun ngobrol lebih lanjut soal permasalahan yang dihadapi oleh Bu Yus. Sejauh ini tidak ada masalah yang berat, hanya masalah-masalah yang kecil dan mampu ditangani oleh para mitra. Masalah yang lumayan berat mengenai selai untuk Rokus, selai yang dipakai oleh para mitra merupakan selai yang dipesan dan dibawa oleh tim Rokus dari Bandung ke Jakarta. Untuk selai-selai favorit seperti coklat dan strawberry sudah habis sejak pertama kali dibawakan oleh tim Rokus. Bu Yus sudah mencoba untuk mencari pengganti selai sejenis di dekat Cilincing akan tetapi selai coklat dan strawberry yang dibeli dari segi kualitas dan rasa kalah dari selai yang dibawa dari Bandung. Hal ini cukup mengganggu karena para mitra harus agak sedikit bergantung pada tim Rokus soal selai. Para mitra sedang berusaha untuk mencari selai yang sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh tim Rokus.

Selanjut soal mitra lain, Bu Wiwid. Dari cerita yang disampaikan oleh Bu Yus bahwa Bu Wiwid agak kurang koperatif dalam bekerja sama. Sesuai dengan kesepakatan dan peraturan yang telah kami setujui bahwa setiap penjualan dari Rokus harus disetorkan kepada Bu Yus selaku kepala mitra sehingga tim Rokus dapat mengontrol uang untuk dikelolah kembali. Bu Wiwid juga tidak menuruti peraturan di mana apabila bahan baku habis (seperti selai, mentega, keju, plastik, dll) harus melaporkan kepada Bu Yus sehingga Bu Yus dapat mengatur untuk membeli barang tersebut sehingga mempunyai standar yang seragam, tetapi Bu Wiwid sendiri langsung membeli barang tersebut tanpa persetujuan Bu Yus. Mendengar hal tersebut, kami pun mengunjungi Bu Wiwid setelah dari rumah Bu Yus.

Kami pun berangkat ke tempat Bu Wiwid untuk berdiskusi. Bu Wiwid mulai menjual roti kukus mulai jam 3 siang sampai jam 10 malam karena di daerah tersebut ramai di atas jam 3 menurut Bu Wiwid. Kami pun menanyakan permasalahan yang dihadapi oleh Bu Wiwid, tetapi sampai sejauh ini masih belum ada. Kami pun melakukan pendekatan kepada Bu Wiwid untuk mengingatkan kembali setiap hasil penjualan dari Rokus harus disetorkan kepada Bu Yus setelah dipotong komisi untuk para mitra Rp 1.000 per penjualan dan harus mengambil bahan baku yang sudah habis dari depot tempat Bu Yus.

Kami tidak ke tempat mitra ketiga, yaitu Bu Emi karena keterbatasan waktu dan tempat Bu Emi yang jauh. Penjualan Bu Emi bisa dikatakan bagus sekali karena menurut Bu Yus daerah tempat Bu Emi, para anak-anak di sana telah mempunyai penghasilan sendiri sehingga daya konsumsi di sana lebih bagus. Beberapa masukan dari Bu Yus :

  • Apa yang harus dilakukan dengan uang yang telah dikumpulkan dari mitra setelah dipotong komisi? Apakah disimpan ke tabungan Bu Yus sendiri dengan pencatatan yang telah memadai atau bagaimana? Kami menyarakan untuk membuka tabungan di Koperasi Kasih Indonesia.
  • Bu Yus memerlukan transportasi sepeda untuk mengontrol para mitra lainnya dan untuk membeli bahan baku di pasar. Kami berencana untuk bekerja sama dengan KKI supaya Bu Yus dapat melakukan cicilan sepeda di KKI.
  • Jangan hanya jualan Rokus saja, coba roti burger dan sejenisnya dengan resiko mudah ditiru.

 

Kunjungan ke-12
4 November 2012
Verry Anggara

Pada kunjungan ini, saya datang bersama Joy Enrico, tim ULAS dari MSS FE UI, kami tiba di cilincing dari pukul 10 pagi. Agenda kali ini adalah untuk survey kinerja klien, re-stock selai, dan mentoring. Pertama-tama kami mengunjungi Bu Yus untuk memantau, setelah nngobrol bu Yus bercerita kalo tanggapan warga terhadap Rokus ini sangat bagus dan sangat membantu. Sehari-hari tiap gerobak bisa menjual diatas 15 roti tiap hari. Dari data juga terlihat bahwa penjualan rata-rata dari 3 gerobak adalah 57 roti tiap hari (target kami adalah 60 roti tiap hari). Tapi bu Yus mengalami masalah mengenai pencatatan, sebelumnya bu Yus melakukan pencatatan di 1 buku saja dan ternyata cukup menyulitkan sehingga bu Yus kemudian memutuskan untuk memisahkan pencatatan tiap gerobak di 3 buku yang berbeda. Namun, berdasarkan cerita bu Yus belakangan ini penjualan di gerobaknya menurun, sementara penjualan di gerobak Bu Emi dan Bu Wiwid meningkat. Hal ini menjadi tugas tim Rokus untuk mengidentifikasi penyebab & memberikan rekomendasi.

 

Minggu lalu, Bu Yus mencari selai di daerah Cilincing untuk menjadi pengganti selai yang kami bawa dari Bandung dan blueberry sudah ditemukan toko yang menjual selai dengan rasa dan kualitas yang setara bahkan lebih baik dengan selai kami, namun untuk selai coklat yang kami bawa dari bandung masih lebih bagus kualitasnya. Hari itu saya membawa 7 kg selai berbagai rasa yang akan di stock untuk ke-3 gerobak.

Setelah dari bu Yus kami kemudian mengunjungi tempat bu Emi, saat itu kebetulan bu Emi sedang tidak berjualan. Bu Emi mengatakan berjualan rokus sangat membantu penghasilan keluarganya, dia bisa berjualan roti kukus sambil bekerja mengupas kerang di rumahnya. Hanya saja menurut pengakuan bu Emi, beberapa hari terakhir penjualannya menurun, salah satu penyebabnya karena ada truk besar yang parkir di depan rumahnya yang menghalangi gerobaknya.

Setelah dari tempat bu Emi, kami kemudian berkunjung ke tempat bu Wiwid, waktu itu bu Wiwid juga sedang tidak berjualan karena bu Wiwid lebih laris berjualan di malam hari, bu Wiwid adalah klien dengan penjualan tertinggi belakangan ini.

Setelah dari tempat bu Wiwid, saya kemudian bertemu dengan mentor untuk konsultasi mengenai Rokus. Poin penting dari mentor adalah mengenai pertumbuhan bisnis, jadi kita harus menunjukan kalo Rokus bisa growth, walaupun 2 minggu penjualan belum bisa memperlihatkan trend penjualan Rokus. Jadi selama 2 minggu terakhir ini kami harus bisa melakukan analisis terhadap hasil penjualan Rokus setiap hari. Untuk melihat apa yang menyebabkan penjualan tinggi (>30 buah) atau rendah, kemudian dari analisis itu akan dihasilkan rekomendasi yang diberikan kepada tiap klien Rokus agar penjualannya bisa terus meningkat.

Story About Rokus #6

no comments

Kunjungan ke-9
7 Oktober 2012
Verry Anggara

Agenda kami berikutnya adalah membeli kompor dan buleng yang akan digunakan pada gerobak Rokus. Sebenarnya ini sudah kami agendakan dari 2 minggu yang lalu namun dikarenakan dana dari Unilever yang tak kunjung turun, timeline kami kemudian terus mundur, bahkan terkadang kami menggunakan uang pribadi kami untuk membiayai keperluan Rokus yang benar-benar penting. Uang yang kali ini akan kami gunakan untuk membeli kompor dan buleng berasal dari uang pribadi kami dan sebagian dari uang yang dipinjamkan teman/saudara

Kunjungan kali ini sebenarnya direncanakan untuk dilaksanakan pada tanggal 6 Agustus, awalnya saya dan William yang mendapat giliran untuk berkunjung kesana. namun karena ada miskomunikasi akhirnya kunjungan pada hari sabtu tersebut batal. Kami kemudian mengagendakan untuk berangkat ke CIlincing pada hari minggu, namun sayangnya karena ada acara keluarga yang tidak bisa saya tinggalkan maka saya tidak bisa menemani William untuk berkunjung ke CIlincing pada hari minggu tanggal 7 tersebut. Untuk mengganti kunjungan tersebut saya kemudian mengagendakan untuk berkunjung pada hari Senin tanggal 8 Agustus. William tidak bisa ikut karena ada janji dengan dosen pada hari itu.

Pada hari senin saya berangkat sendiri dari rumah Saudara di daerah Slipi ke CIlincing sekitar jam 9 pagi. Disana saya langsung menuju ke pasar Kalibaru untuk mendatangi toko tempat penjual kompor dan buleng yang sbelumnya sudah disurvey oleh William dan Vincent. Pertama saya membeli kompor Rinnai sebanyak 3 buah seharga Rp 375.000, dan selang gas seharga Rp 195.000. kemudian setelah membeli kompor saya kemudian mencari tempat untuk mencari buleng yang persis sama dengan buleng yang digunakan oleh William di gerobaknya di bandung. Namun sayangnya setelah berkeliling cukup lama, saya tak menemukan buleng seperti itu, ada beberapa buleng dengan desain yang berbeda namun saya khawatir hasilnya akan berbeda bila digunakan untuk Rokus.

Karena sudah sore dan tidak menemukan buleng yang diinginkan, saya kemudian mengantarkan kompor yang telah dibeli tadi ke Bu Yus untuk disimpan sementara. Saya meminta tolong kepada bu Yus untuk mencari Buleng keesokan harinya di pasar Kalibaru. Setelah menyerahkan uang dan berbincang-bincang cukup lama saya kemudian kembali ke Bandung. Kami berharap secepatnya klien kami bisa berjualan untuk membantu pemasukan keluarga mereka

 

Kunjungan ke-10
14 Oktober 2012
William Lautama

Dalam kunjungan kali ini William bertemu dengan ke3 mitra Rokus di Cilincing yang berperan sebagai penjual dalam operasional sehari-hari Rokus. Maaf gambarnya kurang jelas

Bu Wiwid, Bu Emi, dan Bu Yus

Bu Wiwid sebagai mitra
Bu Emi sebagai mitra
Bu Yus sebagai mitra dan supervisor

Bu Emi merupakan calon mitra yang baru dikenal karena calon mitra sebelumnya bekerja selagi menunggu persiapan Rokus. Bu Emi, seperti ibu yang lainnya, juga memiliki 3 orang anak yang masih duduk di bangku SD dan SMP. William berkenalan dan menjelaskan konsep Rokus sampai operasional secara detail. Ada kontrak yang wajib disepakati antara Rokus dan mitra Rokus. Terlihat jelas dari raut muka dan nada bicara ke-3 calon mitra Rokus tidak merasa nyaman dengan adanya kontrak ini, maka William menjelaskan dan memotivasi ke-3 calon mitra Rokus supaya mengerti dan mau menandatangani kontrak. Tantangan yang besar untuk memotivasi supaya mereka mengerti keberadaan kontrak ini sebab biasanya mereka bekerja atau kehidupan sehari-hari hampir tidak pernah menggunakan kontrak. Setelah dibantu supervisor Rokus (Bu Yus) yang memberi penjelasan, ke-2 mitra lainnya mau mengerti dan menandatangani kontrak tersebut.

Komponen sumber daya Rokus dari sisi fasilitas operasional (solet, buleung, kompor, dan lain-lain) dan gerobak juga sudah ada. Rokus di Cilincing sudah bisa memulai penjualan secepatnya setelah membeli bahan baku (selai dan roti kukus).

Story About Rokus #5

no comments

Kunjungan ke-8
30 September 2012
Vincent & Hendydy Kwik

Sudah sebulan lebih projek ULAS berjalan, semangat & motivasi kami (tim Rokus) sempat turun untuk melanjutkan projek ULAS tersebut. Cukup banyak masalah yang datang; tidak semudah yang kami perkirakan di awal projek saat perencaan. Seperti pada umumnya, lebih mudah merencanakan daripada melakukan dan hal ini benar-benar terbukti. Salah satu hal yang membuat semangat dan motivasi turun adalah merasa cukup jenuh dan capek karena kami harus bolak-balik Bandung-Jakarta hampir setiap minggu, keterbatasan transportasi untuk menjangkau Cilincing, masih belum mendapatkan supplier roti yang menjadi hal yang sangat penting, pencairan dana tahap dua yang belum turun dimana kelompok kami benar-benar membutuhkan dana tersebut untuk melanjutkan tahap berikutnya, membagi waktu kuliah dengan tugas-tugas cukup banyak, tugas akhir, serta kegiatan lainnya benar-benar menguras waktu dan energi.

Setelah bertemu dengan para mentor dan NGO-KKI, kami mulai bangkit kembali. Berbagai masukan, pendapat, motivasi, serta dorongan dari para mentor dan NGO membuat kami lebih bersemangat lagi untuk menjalankan projek ULAS ini.

 

Minggu, 30 September 2012, Vincent dan Hendydy berangkat dari Bandung ke Jakarta untuk menyelesaikan hal-hal yang sempat tertunda dengan masukan dari para mentor dan NGO. Dari Bandung, kami sudah membawa selai yang akan menjadi varian roti kukus yang akan dijual yaitu coklat, blueberry, strawberry, dan kacang dimana merupakan rasa yang cukup populer dan disukai oleh masyarakat pada umumnya. Sesampainya di Jakarta, kami langsung ke Cilincing.

Hal pertama yang kami lakukan adalah ke tempat pembuat gerobak di mana kami sudah berjanji akan melunasi gerobak yang kami pesan (Sebenarnya gerobak tersebut sudah jadi dari minggu lalu, 23 September 2012 dan dikarenakan dana masih belum turun maka kami meminta pengertian dan kesediaan pembuat gerobak untuk menunggu). Kami berusaha melunasi gerobak tersebut dengan uang pribadi yang kami kumpulkan sambil menunggu dana tahap kedua dari Unilever Indonesia. Kami mengecek semua gerobak pesanan kami telah sesuai dengan spesifikasi yang kami minta. Ada sedikit perbaikan dan penyempurnaan terakhir yang harus dilakukan sebelum diantar.

Sambil menunggu perbaikan dan penyempurnaan terakhir, kami pun berkunjung ke rumah Ibu Yus terlebih dahulu untuk ngobrol dan memberitahu persiapan terakhir kami. Kami menitipkan selai yang telah dibawa dari Bandung kemudian kami pun ke pasar setempat untuk membeli berbagai perlengkapan untuk menjual. Mulai dari mentega, keju, susu kental, kotak selai, capitan roti, pisau roti, talenan, tabung gas, dan lain-lain. Kami berkeliling untuk membeli peralatan tersebut hingga sore. Kami juga membeli rantai dan gembok untuk masing-masing gerobak agar gerobak tersebut aman dan tidak dicuri. Peralatan yang belum terbeli adalah kompor gas beserta selang dan bulengan karena uang yang kami kumpulkan sendiri sudah tidak cukup untuk membeli peralatan tersebut.

Setelah selesai mencari peralatan yang dibutuhkan, kami pun kembali ke tempat pembuatan gerobak dan semua gerobak telah selesai dibuat dengan sempurna. Kemudian gerobak tersebut pun diantar : satu gerobak diantar ke rumah Bu Yus dan dua gerobak lainnya diantar ke rumah Bu Wiwid. Persiapan menjual pun uda mencapai 70%. Semua peralatan dan barang yang dibeli sudah dibagi menjadi 3 bagian buat masing-masing gerobak. Tinggal kompor gas, selang, dan bulengan yang belum dibeli serta desain untuk gerobak dan menu.

Sebelum meninggalkan Cilincing, kami pun mengunjungi rumah Bapak Haji Baso, pemilik Alfamart yang akan menjadi tempat kami untuk berjualan roti kukus. Kami bertemu dengan Ibu Mus, istri Bapak Haji Baso dan beliau telah memberi izin buat kami berjualan dengan harga Rp 300.000 perbulan. Bu Mus tidak keberatan kalau kami menaruh gerobak kami di sana walaupun masih belum berjualan dan uang sewa bisa menyusul setelah mulai berjualan. Hal ini merupakan hal yang sangat positif menurut kami.

Setelah itu, kami singgah kembali ke rumah Bu Yus karena mau bertemu dengan salah satu teman Bu Yus yaitu Bapak Ahmadi yang akan menjadi mitra kami untuk mengambil roti di daerah Jelambar. Produsen roti yang kami dapatkan belum bersedia mengantar roti tersebut ke daerah Cilincing sehingga mitra kami harus mengambil sendiri ke produsen roti tersebut. Dikarena mitra penjual kami adalah ibu-ibu dan tidak memiliki motor sehingga kami bekerja sama dengan Bapak Ahmadi untuk mengambil roti tersebut di malam hari setelah Bapak Ahmadi pulang kerja. Kami pun berangkat bareng beserta Bapak Ahmadi dan anak Bu Yus, Mas Eko untuk mengetahui lokasi produsen roti.

Salah satu yang cukup menarik dan membuat kami sadari esensi dari projek ULAS di Cilincing adalah ketika akan pulang ke rumah saudara kami di Jakarta. Motor yang kami bawa kebetulan lampunya putus sehingga harus diganti terlebih dahulu (sudah malam sehingga cukup berbahaya membawa motor tanpa lampu depan). Kami singgah ke salah satu bengkel untuk memperbaiki lampu motor tersebut. Di bengkel tersebut, ada salah seorang montir yang memperbaiki lampu motor kami. Menurut kami montir tersebut sangat ramah dan sabar sekali. Dia bertanya kepada kami, kenapa kalian kelihatan buru-buru banget sambil memperbaiki lampu motor. Gak apa-apa kok mas, bisa diperbaiki, ini pasti ada maksudnya. Kalau sudah begini, tenang saja. Sambil menunggu lampu tersebut diperbaiki, kami sempat ngobrol dengan anak Bu Yus dan mas Eko.

Vincent : Mas, sudah umur berapa sekarang? Masih sekolah mas?
Mas : Seharusnya sudah kuliah mas, tetapi saya sampai tamat SMA saja, enggak punya uang buat lanjut kuliah.
Vincent : Jadi sekarang sibuk ngapain saja mas? Lagi bantu orang tua?
Mas : Lagi cari kerja sih mas, baru belakangan ini berhenti bekerja.
Vincent : Sebelumnya kerja di mana mas?
Mas : Sempat kerja di kapal penangkap ikan di Bali mas, tapi sudah berhenti.
Vincent : Kenapa mas?
Mas : Awalnya ditawarin sama teman warga Cilincing juga, mau kerja di kapal pengangkapan ikan enggak? Gajinya lumayan besar lho. Dikarenakan harus membantu orang tua, saya bersedia bekerja untuk membantu orang tua. Sesampainya di kapal penangkap ikan, saya dipaksa bekerja dari jam kerja biasa (suka disuruh lembur), tidak dikasih istirahat. Gaji yang diberikan tidak sesuai yang dijanjikan, hanya setengah dari yang dijanjikan. Tidak boleh berhubungan dengan keluarga, hanya saat keadaan yang sangat penting dan darurat saja dan itu pun harus melalui kapten kapal. Saya dikontrak selama sepuluh bulan. Kalau di kapal ada masalah, keluarga tidak akan diberitahu kabar dari anggota keluarganya. Malah keluarga sempat berpikir saya sudah meninggal karena sempat ada kabar kalau ada kapal yang tenggelam.
Vincent : Jadi sekarang masih cari kerja ya?
Mas : iya mas.
Vincent : (Dalam hati, kasihan juga ya. Berasa beruntung masih dapat kesempatan kuliah sedangkan orang lain harus sudah bekerja membantu orang tua dan keluarga).

*Lampu motor pun telah selesai diperbaiki. Monitir tersebut pun mengatakan : hati-hati mas pulangnya (ketemu orang-orang yang benar-benar ramah, terasa beda).

 

Side story : Mas Eko menurut kami ada sedikit keterbatasan, mempunyai keterbatasan fisik dengan ukuran tubuh. Tetapi yang membuat kami terkagum adalah semangat beliau untuk bekerja. Walaupun mempunyai sedikit keterbatasan fisik, masih mampu bekerja seperti manusia biasa lainnya. Hal yang luar biasa adalah dia mau membantu kami untuk mengambil roti ke Jelambar dari Cilincing (beliau bekerja di daerah Sunter, jadi sepulang kerja dari Sunter singgah ke Jelambar terlebih dahulu untuk mengambil roti). Dari Cilincing ke Jelambar menurut kami lumayan jauh, akan tetapi ketika sampai di tempat produsen roti, dia mengatakan sambil senyum tulus “tempatnya cukup dekat” padahal tadi jalannya agak muter-muter. (Kami yang membawa jalan dari Cilincing ke Jelambar, kebetulan kami bukan orang Jakarta juga). Dalam hati, padahal menurut kami jarak tersebut lumayan jauh. Bapak Ahmadi bersedia menjadi mitra kami untuk mengambil roti dari Jelambar ke Cilincing dan kami akan membayarnya setiap pengambilan.

Sore hari sekitar jam 5 kami pun berpisah dan pulang ke tempat masing-masing. Setelah pulang rumah, kami baru benar-benar menyadari esensi dari projek ULAS ini selama ini dari orang-orang yang kami temui seharian di Cilincing. Agak susah diungkapkan dengan kata-kata tetapi bisa dibilang senang sekali dapat membantu orang lain yang kurang mampu dengan kemampuan yang kami miliki (Apalagi mendapat dana dari Unilever dan kami tinggal menjalankan projek tersebut dengan mendapat bimbingan dari pihak Unilever beserta mentor-mentor dan NGO). Kadang kita suka merasa masalah yang kita hadapai sangat sulit sekali, padahal baru masalah kecil yang berhubungan dengan masalah kuliah atau pribadi. Akan tetapi, orang-orang tersebut harus menghadapi berbagai masalah, masalah keluarga, biaya hidup, bagaimana cara mendapatkan penghasilan tambahan, membantu orang tua, dan masih banyak lainnya.

Bahagia itu sederhana sekali :D