web analytics

Archive for the ·

Inspiration

· Category...

The secret of Math

2 comments

Have you ever think why :
1. PLUS times PLUS equal to PLUS?
2. MINUS times PLUS equal to MINUS?
3. PLUS times MINUS equal to MINUS?
4. MINUS times MINUS equal to PLUS?

+ – + - + – + - + – + - + – + - + – + - + – + -

 

Here is the essence :
(+) PLUS   =  RIGHT
(-)  MINUS =  WRONG

1. Speak TRUE to something that is TRUE is TRUE
The math formula is + x + = +

2. Speak FALSE to something that is TRUE is FALSE
The math formula is – x + = -

3. Speak TRUE to something that is FALSE is FALSE
The math formula is + x – = -

4. Speak FALSE to something that is FALSE is TRUE
The math formula is – x – = +

 

 

Do you know any other math formula? Maybe integral or differential :P

@WilliamLautama

3 Things You Need to Know about Iron Man 3

2 comments

Jika julukan Superman adalah man of steel, maka Iron Man adalah man with steel :P

Menurut gw, Iron Man merupakan salah satu superhero yang realistis, teknologi Iron Man dapat dibuat & sangat mungkin diciptakan di masa depan untuk digunakan oleh tentara atau polisi ketika bertugas *pasti banyak yang mau jadi tentara atau polisi hehehe :D

Bukan seperti Superman, X-Men, atau Spiderman yang mendapat superpower dari keturunan, gen, hasil eksperimen, dewa, atau yang lainnya, Iron Man dan Batman membuat superpower mereka sendiri. Tony Stark & Bruce Wayne adalah 2 orang bilyuner yang memanfaatkan kekayaan dengan tepat untuk menjawab kegelisahan mereka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

FYI… ini biaya yang harus disiapkan kalau kamu ingin menjadi Iron Man atau Batman.

The Cost of Being Iron Man and Batman

Biasanya gw nonton film drama atau genre lain di studio yang standar, beda dengan film dengan visual efek seperti Transformers atau Iron Man, gw akan memilih versi 3D untuk menikmatinya sampai maksimal. Sebagai penggemar film genre action & science-fiction apalagi film bertema superhero, gw sangat merekomendasi nonton film Iron Man versi 3D :D

Di Iron Man 3 banyak scene di mana Tony Stark bertarung tanpa baju besinya, dari awal film saja penonton langsung disuguhi scene rumah Tony Stark diserang sampai hancur sehingga dia harus mengungsi ke daerah yang jauh tanpa peralatan yang super canggih dan tetap mengejar Mandarin dengan kekuatan seadanya.

Iron Man 3 – Official Theatrical Trailer

 

Ada 3 hal yang perlu kamu ketahui tentang Iron Man 3 :

  1. You can fight even without your superpower
    Di film ini, Tony Stark membuktikan ketangguhannya sebagai manusia biasa yang bertarung melawan musuhnya meskipun tanpa bantuan baju besinya.
  2. Tony Stark is the real engineer
    Ada banyak scene film di mana tokoh utama dalam keadaan terdesak, mencari akal lalu membuat strategi atau alat. Tony Stark merupakan seseorang yang sangat cerdas, dia melakukan semuanya dan mengeksekusinya dengan baik apalagi ketika dia menerobos masuk ke markas Mandarin. He makes something from anything
  3. Good is not enough
    Tidak cukup memodifikasi Iron Man, Tony Stark menciptakan inovasi untuk mengendalikan Iron Man seperti mainan remote control dengan alat mirip Google Glass dan memanggil Iron Man dari jarak jauh.

Di samping itu, teknologi yang paling membuat gw amazed adalah teknologi 3D yang digunakan di rumahnya ketika dia mereka ulang TKP peledakan dan mencari informasi siapa biang kerok dan bagaimana ledakan terjadi.

Hal apa yang menarik dari Iron Man menurutmu? :)

 

@WilliamLautama

Sebuah Nilai dan Tanggung Jawab

2 comments

Hi… apa kabar kuliahmu :D

Gw yakin banyak mahasiswa agak SARIP kalau ditanya IP (Indeks Prestasi), terutama di lingkungan kampus gw agak tabu kalau bicara tentang IP. Jadi kalau mau kepo IP sobat lo, tipsnya dari awal semester janjian siapa yang IP lebih tinggi ditraktir yang lain. Kalau janjian 5 orang kan lumayan ngga berat di ongkos buat bayarin makan 1 orang hehehe :D

Pernahkah lo bertanya bagaimana proses para dosen menentukan nilai atau IP lo? Sebelum mereka menjadi pengajar, ada ujian sertifikasi pengajar dan aturan standar dalam sertifikasi ISO 9001:2000 atau ISO 14000 versi terakhir. Dalam prakteknya, setiap pengajar memiliki gaya masing-masing dalam memberikan penilaian.

  • ada yang memperhatikan keaktifan di kelas dan masuk dalam kriteria penilaian.
  • ada yang menilai hanya dari tugas dan ujian.
  • ada yang memberikan tugas sebagai stimulus agar mahasiswanya belajar dan input nilai ujian.
  • dan lain-lain…

 

Sebagai pengajar, guru atau dosen akan memberikan nilai berdasarkan kemampuan siswa atau mahasiswa. Dengan berbagai cara pengajar menilai, mereka akan menentukan kemampuan individu saat dinilai.

Hal di atas tentu saja merupakan paradigma yang umum dan sudah sepantasnya, namun beberapa hari lalu sahabat saya (sebut saja namanya Arya) bercerita tentang dosennya (sebut saja namanya Pak Ari) yang memberikan indeks A padahal sebelumnya dia sudah menghitung bahwa dia tidak akan mendapatkan indeks A. Setelah kuliah, Arya datang ke ruang dosen dan bertanya kenapa Pak Ari memberikan indeks A.

 

Pak Ari menjelaskan cara mengajar dan cara menilai yang dia lakukan

  • Cara Mengajar

Ibarat mengamati sehelai daun, kapasitas mahasiswa mengamati bagaikan kaca pembesar dan kapasitas dosen mengamati bagaikan mikroskop. Dosen sudah mendalami bidangnya bertahun-tahun bahkan puluhan tahun, kemampuan (skill) dan pengalaman (experience) dalam bidang yang dia ajarkan sudah terasah sehingga menjadi ahli/pakar. Hal ini tentu saja berbeda dengan mahasiswa yang baru pertama kali (newbie) mempelajari bidang tersebut.
Pak Ari memahami perbedaan ini sehingga ketika mengajar ataupun memberikan tugas, dia menyesuaikan dengan kapasitas mahasiswa.

  • Cara Menilai

Pendekatan yang dilakukan Pak Ari berbeda dengan prinsip ‘pengajar yang memberikan nilai untuk kemampuan saat ini’. Pak Ari memberikan nilai A supaya Arya tetap belajar dan memperbaiki kemampuannya. Pasalnya setelah lulus nanti, Arya lah yang akan bertanggung jawab atas nilai yang ia dapatkan ketika kuliah. Saya berpendapat inilah pengajar yang ideal, selain mengajar, mereka membangun ekosistem yang mendorong murid-muridnya untuk terus mengembangkan diri.
Insan pembelajar dipercaya dan dipandang sebagai manusia yang akan bertumbuh lebih dewasa seiring dengan berkembangnya pengetahuan yang dia miliki.

 

Disclaimer

  • Nilai sahabat saya mendekati A
  • Lulus dengan nilai bagus tanpa tanggung jawab untuk memperbaiki kemampuan akan menjadi bumerang sebab ketika individu tidak bisa perform di dunia nyata maka orang lain akan mencela.

 

Siahkan berkomentar atau berbagi cerita mengenai cara pandang yang menarik tentang pendidikan
@WilliamLautama

What We Learned About Happiness

3 comments

 

In life, we learn about happiness from many sources, from friends to family, books to Internet, class to seminars. We keep talking about happiness, and always seek it in our life. Almost all the time, we are trying so hard to get the happiness what we want. Each individual has different perception about happiness. Our mind is creating our own happiness, what make us comfortable, what make us to be proud, what make us to have a good feeling, what make us to feel that we are in the top of the world.

 

 

  • For some of us, we are looking for happiness in term what we own, we think we can be happy with the car that we ride, or the bigger house that we are live in or How much money in our bank account?
  • For some of us, we are looking for happiness if we achieve something in what we did in work place. We are after legacy to be echo in eternity, to be known at what that your passion about and great at it. The pride of to be excellence run in our bloods. To win and to be the best on what we do.
  • For some of us, we are looking for happiness in love manners. We believe that if someone love us make us fly to the moon, the smile of our love ones sooth our feeling. Being together in marriage will bring us stronger.

 

Sometimes, we believe that we are happy if we achieve what we are thinking. What we are thinking sometimes sounds logical and make senses at the moment. But, all those make us genuinely happy? Or we still missing something in our life. The excitement only felt at the moment. However, our mind can be the greatest assets but also can be the greatest enemy for us. As we know, too much of everything will turn into poison. For the most part in our life, we don’t realize it time to time if we are to obsess with our thinking about happiness. Our life is complete, we have healthy body, warm family, good school, etc.. but still always not enough.

It is in our nature as human to think into one deep vision tunnel to be concentrate fully with one thing at the time. Our body move because our mind give instruction to do things and make our “heart” emotion to feel accordingly. Through out the time, we realize, if we don’t actually really happy when we achieve the happiness that we are thinking at the moment, we decide to move to another perception of happiness.

So, what is the true happiness then? Do we have to chase happiness forever in our life? Or we are thinking in the wrong way? Wait a minute! So we can think our happiness merely what we are thinking. If we keep chasing the happiness one by one, why don’t we realize that one thinking of happiness does not enough for us. All of us can think the right balance of all happiness we want in life and it will be great.

Moreover, if our mind keeps looking the lack part or the wrong part in our life, we will never reach our happiness. If we paused for a second, perhaps we could see more positive things happened in our life compare to negative things we encountered. Our mind sometimes resists to ignored, instead our mind will be more focus on the negative things. We have to balance our mind in order we able to balance our happiness and reach the full of happiness in life.

At a seminar John Maxwell, ask question addressed to his wife. “Are you happy to be the wife of John Maxwell?” Maxwell Eyes fixed on her, waiting for an answer for this faithful wife who accompanied him. She stood up and answered the question with a smile and the words very quietly, “No one in this world can make me happy. Not even my husband, because anything he did for me is my decision to be happy. Only me who was able to take the decision to make myself happy.” Can our family, friends, boyfriend/girlfriend make us happy? NO! Because happiness is a choice, I want to be happy, regardless of my circumstances.

When we are happy for any reason, we will be sad or even suffer when those reasons disappear from our lives. Too bad if our happiness depend on the external factors, but there are internal factors we always have and make our live happier.

Happiness is about a mindset of being comfortable what you are thinking and feeling. As we know there is nothing perfect in this world. Our expectation about happiness will set our own level of happiness. Be grateful and Set your own happiness :D

 

Choose to be happy for no reason at all. If we are happy for any reason, we could be in trouble because that reason can get taken away from us.
- Unknown -

Written by Danny Oei Wirianto CEO of mindtalk.com added by William Lautama

 

This is my life and I choose to be happy because I deserve to be happy
@WilliamLautama

Rahasia Memancing Kepiting

no comments

 

Tahukah kamu bagaimana cara memancing kepiting?

Cara yang paling umum digunakan adalah menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu itu, dan mengikat sebuah batu kecil di ujung lain tali. Lalu kita ayunkan bambu agar batu di ujung tali terayun menuju kepiting yang diincar, ganggu kepiting itu dengan batu…. ganggu agar kepiting itu marah dan kalau berhasil maka kepiting itu akan ‘mencapit’ tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga kita dapat mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor kepiting yang sedang marah. Kamu bisa menebak apa yang terjadi berikutnya… Nasib kepiting tersebut ada di dalam kendali kita, kepiting tersebut sudah tidak berkuasa lagi atas dirinya!

 

 

Apa pelajaran moral dari kisah ini?

Kita sering melihat banyak orang dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena MARAH.

Jadi kalau kita menghadapi masalah atau kondisi yang tidak diharapkan, baik itu ‘batu kecil atau batu besar’, hadapilah dengan bijak! Redam kemarahan sebisa mungkin, tunda respon 2-3 detik dengan menarik napas panjang, kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka mereda dan kita dapat merespon dengan sepantasnya.

Biarpun hati panas, kepala harus tetap dingin supaya dapat berpikir dengan jernih :D

 

 

Semoga kita selalu mengingat cerita ini sebelum terpancing emosi dan meledak marah
William Lautama

1 More Reason Why I Have to be Rich

no comments

At one random night, I thought about human’s life that most of us work to (generally) pursue career and the goal is make more money. The common idea people think is when we have money, we feel save because we can afford (almost) anything.

My mind suddenly wonder what if money is not our problem anymore. So, I tweet on my twitter account @WilliamLautama

 And I was touched by reply from @reginaethan

I could not be more agree! My mom always value education, she was the only one who encouraged me to pursue my education at Bandung Institute of Technology although I already satisfied accepted at one of good university in Bandung and I am very grateful for that, thanks mom :D

I am sure if my parents have more money, they would have been sent me study overseas then I will come back to Indonesia and be the light for this country as Regina said. She also replied.

I am sure there so many talents on rural area around Indonesia who should get qualified education like us but they could not because of fundamental problem : lack of money! I hate to admit that but I could not do anything… at least for now. So, I texted her

Someday, I am going to be rich for sure and help brilliant mind to get qualified education. I know how unfortunate not to get a good education and how grateful to get it, so at that night I have 1 more reason why I have to be rich! What is your reason to be rich?

 

@WilliamLautama

Top Lesson from Alice in Wonderland

no comments

Alice in Wonderland

Alice               : I just wanted to ask which way I ought to go.
Cheshire Cat  : Well that depends on where you ought to get to.
Alice               : Oh, it really doesn’t matter, as long as I…
Cheshire Cat  : Then it really doesn’t matter which way you go.

Cuplikan di atas saya ambil dari percakapan Alice dengan seekor kucing.
Bila kita memiliki tujuan tertentu (akan kemana), maka cara memilih jalan menjadi penting karena kalau salah pilih jalan bisa nyasar. Kecuali memang belum memiliki tujuan hidup, maka tidak akan pernah salah pilih jalan. Kita bisa mencoba beberapa jalan, trial-and-error, sampai kita sudah bisa menentukan apa tujuan nanti dengan SMART. Jangan hanya mengikuti trend ata kata orang tanpa pemikiran diri sendiri ibarat mengikuti arus air yang ada, karena air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah!

Silahkan share pengalaman atau pendapat kamu :D
Twitter @WilliamLautama

Mental disuapin VS mencari

4 comments

William Lautama

YOT CA Institut Teknologi Bandung

Inspiring article bulan Mei

 

Saya pernah menjadi customer service bagi teman-teman mahasiswa yang ingin mendaftar beasiswa. Saya ingin membantu mereka dengan sharing pengalaman saya sebagai penerima beasiswa sebelumnya & penyusunan project di kampus lengkap sampai dengan informasi mengenai FAQ, fasilitas & syarat yang harus dipenuhi oleh aplikan yang ingin apply untuk mendapatkan beasiswa. Semua, saya tulis di sini dan saya share di group facebook tempat berkumpulnya calon aplikan beasiswa.

Esok harinya, 2-3 orang bertanya hal-hal yang jawabannya sudah ada namun tetap saya jawab sambil mengarahkan mereka untuk membaca informasi lengkapnya. Awalnya, saya pikir cara ini cukup efektif namun ternyata saya salah… Ibarat kamu sudah melakukan presentasi dengan baik lalu saat sesi tanya jawab, penonton bertanya hal yang sudah kamu presentasikan. Penonton… Ke mana saja daritadi?

Semakin banyak orang bertanya hal-hal sepele, yang pernah ditanyakan terus ditanyakan lagi oleh yang lain padahal bisa dijawab dengan common sense dan sudah ada di FAQ bahkan ada jawaban tepat di atas pertanyaan mereka namun saya masih merespon mereka, kenapa? Simple saja, saya ingin memperbesar kapasitas keSABARan!

Ada beberapa teman-teman penerima beasiswa & tim rekrutmen dari korporat yang menjadi customer service. Kita pernah emosi sekaligus kasihan. Ya, sangat kasihan karena calon aplikan ini sedikit sekali yang memiliki attitude ‘read first then ask a question’. Mereka hanya ingin mendapatkan informasi dengan mudah dan langsung bertanya tanpa membaca padahal apa yang mereka cari ada di sana.

Saya selalu diajarkan untuk ‘seek first then ask’ maksudnya cari dahulu dengan kemampuan sendiri, kalau butuh effort ya saya lakukan karena saya berjuang untuk mendapatkan apa yang saya cari. Kalau ada istilah/ilmu baru kan bisa tanya mbah google yang mahatahu. Kalau masih ngak nemu atau ngak ngerti baru bertanya.

Mentor saya di Young On Top, mas Billy Boen pernah tweet hal yang serupa :

  • Jd anak muda JANGAN selalu MINTA DISUAPIN (malas). Kalo bisa cari tau sendiri, knp tdk? Ada GOOGLE. #YOT
  • Bnyk bgt anak muda dikit2 nanya. Seneng bgt BERGANTUNG ya sama org lain drpd gunain kapasitas diri sndiri (malas)? #YOT
  • Bayi makan disuapin krn blom bisa. Masa sampe umur 20 msh minta disuapin? Yg bener aja!?! (Malas). GOOGLE! #YOT
  • Nanya boleh. Tp jgn nanya sesuatu yg bisa dcari dgn mudah. Ini MALAS namanya. Bgini aja malas.. mau sukses? Come on! #YOT
  • YES! Betul! RT @arisfirman: @BillyBoen kalau memang ga tau mas? Masa ga nanya? Mksdnya usaha sndiri dulu br tanya bukan?
  • kalau hal2 kecil aja nanya, gimana handling with bigger problems

Saya setuju 100% dengan tweet di atas! Banyak bertanya itu bagus supaya tidak tersesat di jalan #PeribahasaBanget tapi kalau mengulang pertanyaan yang telah dijawab sebelumnya itu namanya malas. Bertanya adalah awal dari keingintahuan, lebih baik kita mencari informasi yang SUDAH TERSEDIA lebih dahulu. Ini persoalan mental, mental diSUAPin atau mental menCARI. Kalau masih punya mental diSUAPin, kapan suksesnya? Bakal ketinggalan, mereka yang aktif menCARI akan sukses lebih cepat dan lebih baik.

Pendidikan yang Mencetak Robot Pintar Bernyawa

39 comments

Pendidikan di Indonesia sekarang ini semata-mata menghasilkan manusia yang memiliki kepandaian atau bahasa kerennya hardskill yang siap menjadi pekerja di industri. Sampai di sini tidak ada yang salah dengan konsep pendidikan, namun jika kita memperhatikan proses pendidikan maka kita akan melihat banyak hal yang bisa diperbaiki.

Setiap individu mencari rezeki untuk bisa bertahan hidup dan memiliki standar hidup berbeda dari yang lain. Bagi saya yang hidup merantau belajar di Bandung sudah cukup dengan uang kiriman orang tua pasti beda standar dengan yang sudah berkeluarga. Amanah yang diberikan sejak kita kecil adalah belajar yang rajin, dapat nilai bagus, cari sekolah yang baik, lulus cepat, dan kerja di perusahaan yang memberikan gaji besar ditambah fasilitas yang mewah. Akibatnya, banyak orang hanya menggunakan pendidikan untuk mencapai tujuan-tujuan pribadinya, seperti meningkatkan status keluarga, hidup mewah, punya kekuasaan, dan lain-lain.

Dengan sifat dasar manusia yang tidak pernah puas, kita selalu ingin mencapai standar hidup yang lebih tinggi. Sekolah sampai menjadi sarjana saja tidak cukup, doktrin untuk sekolah layaknya berlomba mendapatkan gelar sebanyak mungkin di jurusan yang menurut majalah atau internet merupakan jurusan yang bergengsi. Bahkan memilih jurusan berdasarkan apa yang disampaikan orang lain, mendengar bisik-bisik kalau jurusan A nanti kerjanya digaji $$$. Bukan berdasarkan apa yang inginkan. Akhirnya pendidikan berfungsi ibarat pabrik yang menerima input pelajar dan menghasilkan output lulusan pintar dengan ijazah.

Memang fungsi pendidikan untuk menciptakan orang-orang pintar, tapi sebenarnya lebih baik lagi jika mampu ciptakan orang-orang yang berkarakter.
- Daoed Joesoef -

Menurut Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada era Orde Baru, fungsi pendidikan adalah untuk membentuk masyarakat yang menguasai ilmu pengetahuan serta memiliki etika dan moral yang pada akhirnya memerdekakan manusia agar mereka dapat mencapai hakikat kemanusiaan yang lebih tinggi. Mari kita lihat dengan yang terjadi di Yunani Kuno, Plato dan kawan-kawannya banyak belajar dan melakukan eksperimen hanya karena semata-mata untuk memuaskan dahaga keingintahuan untuk mengejar kepenuhan kemanusiaan; saat pendidikan bukan komoditi yang diperjualbelikan dan layaknya iman, ilmu itu juga anugerah suci bagi umat manusia untuk memerdekakan dirinya dari kegelapan. Bagi mereka pendidikan adalah proses belajar untuk menjadi lebih bijaksana, dan mengembangkan peradaban kemanusiaan. Hakikatnya, pendidikan adalah wadah bertemunya berbagai pemikiran, bersaing dalam menemukan kebenaran.

Pada tahun 1980an, ahli pendidikan dan psikologi Harvard University, Howard Gardner, mengemukakan teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Ada sembilan jenis kecerdasan : linguistik, logika-matematika, visual, musik, kinestetik, intrapersonal, interpersonal, naturalist, dan eksistensial. Semua kecerdasan ini sama pentingnya dan sudah banyak bukti orang-orang yang sukses di setiap kecerdasan. Ujian standarisasi seperti Ujian Nasional hanya fokus kepada bentuk kecerdasan lingusitik dan logika matematika. Jika ada remaja yang tidak lulus atau hanya lulus dengan hasil Ujian Nasional standar kelulusan, mereka langsung dicap tidak cerdas dan masa depan suram. Sebagai contoh, remaja yang memiliki bakat luar biasa di bidang-bidang seperti musik, seni, dan sastra sering diarahkan sekolah dan orang tua untuk tidak mendalami bakat mereka karena bidang tersebut dicap tidak memiliki masa depan yang cerah. Sebuah paradigma yang sangat keliru! Kalau dicermati, justru Indonesia terkenal dan diakui di berbagai pentas mancanegara dari bidang musik dan seni. Akibatnya, remaja pun terjebak dalam skenario ‘sekolah hanya untuk memuaskan keinginan orang tua dan sekolah’, bukannya menggali apa yang benar-benar mereka sukai.

Jika hanya sebagian bentuk kecerdasan saja yang menjadi perhatian, maka sistem pendidikan kita hanya akan menghasilkan sumber daya manusia yang pintar di bentuk kecerdasan tertentu padahal untuk  membangun Indonesia dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu berkarya di seluruh bentuk kecerdasan. Oleh karena itu, jika sistem pendidikan tidak diubah secepatnya maka potensi remaja Indonesia tidak berkembang dan menghambat kemajuan secara kolektif. Pemerintah perlu meninjau ulang sistem persyaratan nilai hasil ujian sebagai syarat kelulusan, lalu menyusun formula penilaian akhir terhadap siswa yang lebih jujur, adil, dan dapat mengakomodasi semua bentuk kecerdasan. Proses dan hasil belajar semestinya mampu membuat siswa dan remaja mengembangkan potensi diri mereka secara maksimal dan membantu mewujudkan cita-cita mereka yang sesungguhnya. Sebaiknya, sejak dini sekolah mengarahkan dan memfasilitasi remaja untuk menggali potensi diri mereka masing-masing yang sebenarnya sehingga akhirnya sukses dan bahagia sesuai bidang yang disukainya.

Praktek sekarang ini, kurikulum pendidikan di SMA membuat remaja tertekan. Bayangkan seorang remaja SMA tahun pertama harus menguasai empat bidang sains (biologi, kimia, fisika, dan matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer. Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stres, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya.

Untuk mengurangi beban ini, sebaiknya anak-anak yang ingin menjadi insinyur cukup diwajibkan menguasai matematika, fisika, dan kimia, sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom diwajibkan mendalami accounting, statistik, dan ekonomi sehingga anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. As simple as that! Tahap SMA seharusnya mempersiapkan anak-anak supaya mereka menemukan bidang yang menjadi passion masing-masing individu dan memilih jurusan apa yang akan mereka ambil di proses belajar tahap berikutnya yang lebih tinggi. Belajar dengan passion adalah belajar dengan mengikuti panggilan hati untuk ingin tahu sesuatu demi keingintahuan tersebut tanpa tekanan janji-janji untuk imbalan materi yang lebih baik di kemudian hari.

Dari sudut pandang metode pengajaran pun, materi pelajaran yang diberikan hanya berupa konten saja. Remaja hanya diajari cara menggunakan rumus, parahnya ketika ujian mereka harus menghafalkan sedemikian banyak rumus. Sungguh tidak masuk akal, padahal saat prakteknya nanti kita juga diperbolehkan melihat buku sebagai referensi dan mencari bahan dari internet ketika bekerja. Dalam setiap pertemuan pun seringkali membahas soal-soal teori dan solusinya dengan rumus, lain soal lain pula rumus yang digunakan, dan seterusnya hingga akhirnya cara untuk mendapat nilai tinggi adalah dengan menghafalkan tipe soal dan rumus yang digunakan untuk menjawab pertanyaan, sebaiknya konsep pelajaran diajarkan terlebih dahulu sehingga remaja mengerti bagaimana pola berpikir dalam memahami persoalan sampai kepada teknis menyelesaikan masalah. Ada baiknya juga di awal semester, pengajar memberikan gambaran besar apa yang akan dipelajari, bagaimana cara memahami materi pelajaran, hasil yang diharapkan setelah belajar, dan lain-lain sehingga bisa memberikan motivasi dan memperjelas hal yang akan dipelajari.

Terakhir, kita sering mendengar terjadinya praktek-praktek kecurangan dalam pelaksanaan UN yang juga melibatkan oknum guru, sekolah dan unsur pemerintahan. Praktek dan hasil UN seperti ini jelas menimbulkan luka psikologis dan moral. Ditengah-tengah gencarnya upaya penegakan hukum memberantas praktek-praktek KKN di republik ini, sistem pendidikannya, melalui guru, sekolah, dan administratur pendidikan, malah memberi contoh menghalalkan ketidakjujuran. Apa jadinya remaja produk UN yang tidak jujur ini ketika mereka nantinya menjadi pengusaha, pejabat negara, atau anggota DPR/MPR? Ayo tegakkan integritas dalam proses pendidikan!

 

Program Indonesia Mengajar adalah salah satu contoh yang layak dipuji sebagai terobosan membangun pendidikan yang memerdekakan. Mereka adalah manusia merdeka yang berani bertindak untuk menyalakan kecintaan anak-anak di seluruh Indonesia terhadap ilmu.

 

 

Created by :

William Lautama

Stop Blaming & Take Responsibility

1 comment

William Lautama

YOT CA Institut Teknologi Bandung

Inspiring article bulan April

 

With great power, comes great responsibility!” cuplikan sebuah kalimat yang dilontarkan Paman Ben kepada Peter Parker dalam film Spiderman ini merupakan salah satu kutipan yang terkenal di dunia. Pesannya adalah dalam posisi apapun, kita memiliki POWER dan harus bertanggung jawab apapun yang dilakukan dalam posisi tersebut! Maksud POWER disini adalah pengaruh/peran, jika kamu asisten dosen maka kamu mempunyai peran untuk membagikan ilmu kepada kelas yang diajar atau jika kamu adalah seorang aktivis maka kamu berperan terhadap keberjalanan organisasi dimana kamu berada.

Respon yang sebagian besar dilakukan ketika melakukan kesalahan adalah mencari ‘kambing hitam’ (kasihan kan kambing melulu yang disalahkan :p). Pikirannya langsung mengelak, mulut mengucapkan sejuta alasan, dan telunjuk diarahkan kepada orang lain yang menjadi korban. Apakah kamu salah satu orang seperti itu? Jika YA, maka sudah dipastikan bahwa kamu adalah orang SULIT untuk maju. Apapun yang terjadi dalam hidup, BAIK atau BURUK, hentikan menyalahkan orang lain, hentikan menyalahkan lingkungan apalagi menyalahkan diri sendiri!

Ada yang bilang jika terjadi hal buruk kepada anda maka SALAHKAN diri sendiri karena apapun yang terjadi dalam hidup, kamulah yang membuatnya jadi kesalahan ada padamu. Ada juga yang bilang jika terjadi hal buruk maka JANGAN PERNAH SALAHKAN diri sendiri karena jika kamu menyalahkan diri sendiri, maka kamu akan kehilangan kepercayaan diri anda. Apapun itu, saya tidak setuju dengan kedua hal diatas. Mindset yang tepat adalah STOP MENYALAHKAN dan MULAI BERTANGGUNG JAWAB! Kamu hanya perlu bertanggung jawab dan mengambil tindakan untuk menjadikan segalanya menjadi LEBIH BAIK.

Karakter bertanggung jawab adalah melaksanakan kewajiban dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya adalah manusia tidak sempurna dan bertanggung jawab memperbaiki keadaan yang dialami dan dirasakannya. Orang yang memegang tanggung jawab atas dirinya sendiri, adalah orang yang memegang kendali TAKDIR hidupnya. Takdirmu ingin sukses? BERTANGGUNG JAWABLAH!

Kamu bisa memberi saran dan kritik untuk artikel ini atau artikel selanjutnya, silahkan kontak saya di akun twitter @WilliamLautama