Di Indonesia masih banyak penduduk yang hidup serba kekurangan di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan merupakan akar dari semua permasalahan sosial yang dihadapi yaitu masalah pendidikan, kesehatan, lingkungan dan tempat tinggal yang layak, kelaparan, dan masih banyak lagi. Kemiskinan tersebut juga merupakan sebuah siklus dan diperlukan tindakan nyata yang memutuskan mata rantai kemiskinan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat Indonesia.

Karena kemiskinan, jutaan orang tidak bisa menikmati PENDIDIKAN sehingga mereka tidak berpengetahuan.
Karena kemiskinan, jutaan orang tidak mampu memenuhi kebutuhan primer dengan layak sehingga mereka lapar atau makan sembarangan dan pada akhirnya sakit serta sulit mendapatkan layanan KESEHATAN bagi masyarakat kurang mampu.
Karena kemiskinan, jutaan orang hanya mampu hidup dengan kondisi TEMPAT TINGGAL yang buruk.

Masyarakat miskin masih ditemukan di kota besar seperti Jakarta. Cilincing adalah sebuah daerah di Jakarta Utara dengan tingkat kemiskinan terbesar, mencapai ±19.000 keluarga (30% penduduk miskin di Jakarta Utara). Di kelurahan Kalibaru di daerah Cilincing ada ±8.400 keluarga miskin. Definisi miskin adalah hidup dengan pendapatan kurang dari $2 per hari atau sekitar Rp 19.000 saat tulisan ini dibuat (sumber : World Bank).

Cilincing, Jakarta Utara

Prihatin dengan keadaan yang terjadi di Cilincing ini, Juli 2012 lalu saya mengajak teman-teman melakukan perubahan di Cilincing. Bersama Hendydy Kwik, Vincent, dan Verry Anggara. Kami berempat mengikuti Unilever Leadership Actions on Sustainability (ULAS) dan bekerja sama dengan Koperasi Kasih Indonesia (KKI). ULAS adalah program yang diinisiasi oleh Unilever Indonesia dan FEUI yang mendukung pemuda melakukan aksi nyata berbasis sustainability dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di masyarakat. KKI adalah sebuah lembaga microfinance yang memberikan pinjaman, edukasi, dan dukungan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat Cilincing.

Program kami bernama “Rokus : Roti kukus” yang menggunakan konsep waralaba/franchise. Kami melakukan inovasi bisnis model franchise yang umumnya berorientasi profit menjadi sosial. Kami menyediakan fasilitas (gerobak, peralatan, bahan) dan edukasi (dasar akuntansi dan manajemen) dengan dukungan dana dari Unilever untuk masyarakat yang kurang mampu agar mereka dapat menjalankan bisnis roti kukus dan bertujuan mendapatkan penghasilan lebih, mencapai kesejahteraan, dan kehidupan yang lebih baik. Sebagian besar keuntungan dari penjualan akan digunakan untuk mitra dan sebagian kecil disimpan untuk menyediakan fasilitas lain bagi mereka yang membutuhkan sebanyak mungkin sebagai konsep Sustainability, sehingga rokus dapat membanu kehidupan mitra saat ini dan calon mitra di masa depan. Rokus dalam bentuk video bisa dilihat di sini.

Dalam prosesnya kami menemukan beberapa kendala, yaitu : pertama jarak antara kami (yang berkuliah di Bandung) dengan para mitra di Cilincing yang cukup jauh sehingga kami membutuhkan waktu lebih panjang untuk tiba di Cilincing. Kami harus menempuh perjalanan subuh menggunakan travel dari Bandung ke Jakarta. Kedua, bahan baku cukup sulit ditemukan sehingga memakan banyak waktu dan tenaga. Ketiga, pencarian dan penawaran berbagai macam peralatan yang dibutuhkan dimana semua yang dibutuhkan untuk program ini harus memenuhi standar yang kami tetapkan.

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, gerobak Rokus siap beroperasi. Senyuman terpancar jelas dari mitra untuk memulai awal yang baru dan lebih baik.

Sejak 5 Agustus 2012, setiap akhir minggu kami secara bergantian mengunjungi Cilincing untuk mengeksekusi program rokus. Penjualan rokus telah berlangsung selama sebulan dan menunjukkan hasil yang cukup memuaskan untuk menambah penghasilan. Mitra kami saat ini memiliki penghasilan Rp 10.000 – Rp 35.000 per hari. Penghasilan ini mereka gunakan untuk biaya hidup sehari-hari Bu Yus, uang sekolah anak Bu Emi, dan sepeda anak Bu Wiwit sebagai hasil nyata program rokus. Kami percaya perubahan ini akan  merubah nasib mereka sedikit demi sedikit.

Modal awal Rp 720.000 yang kami berikan di awal penjualan bertambah menjadi Rp 1.780.000 (bertumbuh 147%). Walaupun penjualannya masih fluktuatif, kami optimis rokus akan terus bertumbuh sambil tetap memberikan dukungan. Salah satu hal terpenting yang kami lakukan adalah mengedukasi warga yang dulunya menganggur dan sesekali dibayar untuk membersihkan kulit kerang menjadi individu yang memiliki keberanian dan sense bisnis untuk menjalankan usaha. Ada yang berinisiatif mencari pesanan dari arisan ibu-ibu di Cilincing atau menjual produk lain yang bisa mereka buat (es kacang) sambil berjualan roti.

Untuk mendapatkan sesuatu yang besar, diperlukan pengorbanan yang sepadan. Saya yakin semua pengorbanan dan usaha yang kami lakukan melalui program rokus dalam bentuk waktu, tenaga, pikiran, dan lain-lain akan berkembang serta menjadi solusi yang sustainable untuk membantu masyarakat Indonesia lebih banyak lagi.

 

Terimakasih
William Lautama
Tulisan ini adalah Aksi Untuk Indonesiaku di Lintas.Me